Ustadz Saudi: Kunci Kemuliaan Mbah Mun Adalah Menghormati Orang Alim

Ustadz Saudi
Ustadz Saudi

Oleh: Ismael Amin Kholil

Di penghujung tahun 2018, setelah lulus dari Tarim saya sebenarnya masih punya keinginan kuat untuk memburu ilmu. Kala itu saya punya tiga opsi: Ke Kairo Mesir, Tabarrukan ke Lirboyo atau mondok ngaji fiqh ke Pak Saudi. Tapi ada daya, setahun kemudian saya sudah laku jadi suami orang.

Bacaan Lainnya

Sosok yang bersama saya di foto ini adalah Ustadzuna Pak Saudi. Salah satu murid Mbah Mun yang paling alim, tak salah kiranya jika saya mengatakan beliau adalah salah satu murid kesayangan Syaikhina Maimun Zubair, juga salah satu murid yang paling dekat dengan beliau. Beliau sekarang memangku pondok pesantren di daerah Mayong Jepara. Beliau ini sama alimnya seperti Gus Baha’, bedanya yang satu Masyhur satunya Lagi Mastur. Beliau juga seorang Faqih yang Shufi. Ilmu Fiqhnya nggak ada yang meragukan, apalagi ilmu tasawwufnya. Tasbih tidak pernah lepas dari tangan beliau di mana pun dan kapanpun.

Ketika haul ayah Syaikhina Maimun, yaitu Mbah Zubair Dahlan saya diberi banyak waktu untuk ber-istifadah lagi kepada beliau. Saya banyak mendengar ilmu-ilmu baru dari beliau, tentang Mbah Maimun, tentang mahabbah kepada Rasul dan banyak hikmah-hikmah bertabur emas-permata lainnya.

Salah satu ilmu tentang Mbah Yai Maimun yang saya dengar dari beliau adalah bagaimana totalitas Syaikhina Maimun dalam menghormati orang alim.

“Penyakite wong alim iku nggak gelem hormat ning wong alim“ (penyakit orang alim itu adalah nggak mau hormat kepada orang alim yang lain)

Syaikhina Maimun kenang Pak Saudi tidak seperti itu, jangankan kepada ulama besar, kepada santrinya yang alim saja beliau sangat menghormati. Bahkan bukan hanya sekali dua kali beliau berjalan ke pinggir jalan raya memakai tongkat untuk “menyetopkan” bis bagi tamunya yang padahal hanya kiai desa. Padahal juga usia beliau waktu itu sudah di atas 70 tahun.

Mendengar itu saya lantas ingat kisah Syaikhona Kholil ketika akhir-akhir hayatnya sering pergi ke Tebuireng untuk menghadiri pengajian hadits yang diasuh santrinya, yaitu K.H. Hasyim Asyari. meskipun banyak yang menilai sikap Syaikhona itu adalah untuk mengetahui sebesar mana kemampuan santrinya, atau sebuah isyarat dari Syaikhona bahwa Mbah Hasyim yang akan melanjutkan perjuangannya, akan tetapi menurut saya itu adalah wujud tadhim dari seorang Syaikhona Kholil kepada orang alim, meskipun orang Alim itu adalah K.H. Hasyim Asyari, muridnya sendiri yang dulu bertahun-tahun mengaji kepada beliau.

Mbah Maimun juga sering berpesan kepada Pak Saudi: “ojo ngerasani kiai dii.. kiai iku kekasihe Allah “

Dan memang itu adalah manhaj atau sikap yang beliau contohkan kepada kami para santrinya selama ini, setidak cocok-cocoknya Mbah Yai kepada seorang tokoh agama atau tokoh masyarakat. Tidak pernah beliau menggibah atau berkomentar buruk tentang orang tersebut di depan halayak umum. Apalagi jika sosok itu termasuk Habaib, maka bisa dipastikan beliau akan memilih sikap diam. Tak heran jika beliau berhasil menjadi sosok pemersatu umat, disegani dan diterima oleh kalangan manapun, mulai dari golongan akar rumput sampai para pejabat. Mulai dari orang-orang NU atau ormas-ormas lainnya.

Terakhir, pak Saudi adi memberi saya nasihat tentang pentingnya mendoakan guru. Mendoakan guru itu punya power yang sangat berpengaruh dalam keberkahan hidup kita. Beliau tadi berkata dalam bahasa Arab.

“Bagi saya mendoakan guru lebih utama daripada mendoakan saya sendiri, mendoakan keluarga guru lebih utama daripada mendoakan keluarga saya sendiri dan mendoakan santri-santri guru saya lebih utama dari mendoakan santri-santri saya sendiri “

Allah Yahfadhzak Ustadzna. Matur nuwun oleh-oleh ilmunya yang mungkin tidak akan cukup dimuat dalam ratusan atau bahkan ribuan tulisan.

Ismael Amin Kholil

15 Ramadhan 1443 H. ditulis dalam perjalanan Sarang-Bangkalan

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.