Tiga Pesan K.H. Mahrus Ali Agar Ilmu Mondok Masuk ke Hati

Pengasuh Pondok Pesantren An Nawawi Berjan K.H. Achmad Chalwani menyampaikan kembali tiga pesan K.H. Mahrus Aly Lirboyo untuk para santri. Pesan tersebut disampaikan saat kajiah ilmiah Ahlusunnah wal Jamaah bersama Buya Dr. Arrazy Hasyim di Pondok Pesantren An-Nawawi Berjan Purworejo.
Di antara pesan tersebut adalah Pertama, syaikhun fattah. Artinya, seorang santri harus punya guru yang bertanggungjawab, yang bisa membuka dan menghidupkan hatinya santri.
“Sering saya sampaikan Allah SWT berfirman, yuzakkihim wa yu’allimuhumul kitab. Jadi sebelum yu’alim ada proses (tazkiyah). Ini hanya ada dalam pesantren,” ujarnya, Rabu (27/1/22).
Beliau menekankan, tazkiyah dahulu baru transfer ilmu. Contohnya, di pesantren kadang-kadang ada kerja bakti di ndalem kiai atau ro’an. Hal itu termasuk bentuk tazkiyah, sebab ngaji tanpa tazkiyah, ilmunya tidak akan masuk ke hati, cuma singgah di otak saja.
“Kalaupun dia pinter, itu cuma di otak saja karena tanpa tazkiyah. Perlunya takziyah supaya ilmu itu sampai ke hati,” tandasnya.
Kedua, kutubun shihah (kitab-kitab yang sehat). Di pesantren diajari kitab-kitab yang sehat. Contohnya kitab jurumiyah. Penyusun kitab jurumiyah membuangnya ke laut sambil bilang, kalau memang kitab ini bermanfaat, walaupun aku buang ke laut akan pulang sendiri. Saat beliau pulang, kitab itu sudah ada di meja.
Beliau menceritakan bahwa dulu ketika di Pondok API Tegalrejo, K.H. Chudori Ikhsan jauh hari mengingatkan ada pesantren besi dan plastic. “Kalau Besi itu Ahlasunnah wal jamaah, beda kalau plastic namanya saja pesantren tapi isinya tidak mengajarkan pesantren,” imbuhnya.
“Apakah ada profesor sekarang yang menyusun kitab seperti itu? Sementara kitab kita, gausah dibuang, hilang sendirinya, karena ga suka membaca,” jelas beliau.
Ketiga, santri harus punya ketinggian akal. Santri harus memiliki inovasi, kreasi dan gagasan. Jika belum paham, mencari cara bagaimana paham, belum hafal mencari jalan agar bisa hafal.
“Tiga itulah pesan Mbah Mahrus Aly Lirboyo, bahkan tausiyah ini menjadi keputusan ketika halaqoh pemahaman kitab kuning kontekstual Pondok Pesantren Darussalam sekitar tahun 1987,” pungkasnya.

Malik Handika | Pimpinan Redaksi nuvoice.or.id

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *