Teladan Mbah Wahab

  • Whatsapp

Oleh: Hikmah Imroatul Afifah

Nahdlatul Ulama yang berusia 95 tahun tentu tidak dapat dipisahkan dari dari dua nama besar, yakni KH.Hasyim Asy’ari dan KH. Abdul  Wahab Hasbullah. Peran kedua ulama ini begitu berpengaruh dalam sejarah berdirinya Nahdlatul Ulama yang telah banyak dituliskan. Sedikit menjadi pengingat, pada tahun 1914, Kiai Wahab telah mendirikan kelompok diskusi yang dinamai Tashwirul Afkar. Sebagian orang juga menyebutnya Nahdlatul Fikr atau kebangkitan pemikiran. Kemudian, tidak hanya berhenti sampai di situ, Kiai Wahab–atau biasa dipanggil Mbah Wahab—juga memprakarsai berdirinya Nahdlatul Wathon pada tahun 1916 dan Nahdlatut Tujjar pada 1918. Bermula dari “nahdlah-nahdlah” sebelumnya, Mbah Wahab mengutarakan gagasan pendirian jam’iyyah (organisasi) kepada gurunya, KH. Hasyim Asy’ari.

Seperti tradisi pesantren pada umumnya, Mbah Hasyim tidak lantas mengiyakan ide Mbah Wahab begitu saja. Beliau memilih beristikharah terlebih dahulu. Waktu yang dibutuhkan Mbah Hasyim untuk menjawab permintaan Mbah Wahab adalah 2 tahun lamanya. Tentu itu bukan waktu yang sebentar. Mbah Hasyim memberikan jawabannya pada tahun 1926 saat KH. As’ad Syamsul Arifin mengantar tasbih dari KH. Cholil Bangkalan. Tasbih yang dibawa dengan berjalan kaki mulai Bangkalan sampai Tebuireng tersebut tidak pernah disentuh sedikit pun oleh Kiai As’ad. Tasbih itu dikalungkan langsung oleh KH. Cholil sambil berpesan agar menyebut “Ya Jabbar, Ya Qahhar” sebanyak tiga kali, setibanya nanti di Tebuireng. Dalam masa penantian tersebut, Kiai Wahab tentu tidak bisa diam begitu saja. Ada banyak sekali problem yang harus dihadapi. Langkah besar Mbah Wahab yang tentu kita ingat adalah pembentukan Komite Hijaz pada tahun 1926, sesaat sebelum Nahdlatul Ulama resmi berdiri.

Narasi-narasi sejarah tersebut jamak kita ketahui lewat pelajaran-pelajaran Aswaja dan Ke-NU-an, buku-buku babon, atau artikel-artikel yang berseliweran di media online. Secara pribadi, saya mendapatkan sejarah berdirinya Nahdlatul Ulama sejak usia Madrasah Ibtidaiyah hingga Madrasah Aliyah. Terhitung “cukup kenyang”, sebenarnya. Namun dengan pembacaan sejarah yang mengabaikan hikmah dari setiap kisah, sejarah berdirinya Nahdlatul Ulama justru menimbulkan pikiran kurang ajar saat saya duduk di bangku Tsanawiyah.

Saya tidak menyebut pemikiran tersebut sebagai buah dari berpikir kritis. Anggapan saya, pemikiran kurang ajar tersebut jauh lebih tepat jika dilabeli dengan su’ul adab. Jika saja saya berpikir kritis, tentu pemikiran tersebut tidak akan bertahan sampai hari ini, setidaknya sampai sore tadi. Di usia Tsanawiyah yang tentu saja tidak memiliki ilmu apa-apa, dengan beraninya saya punya pikiran “Mbah Hasyim perannya ‘Cuma gitu doang’ kok bisa jadi Rais Akbar?”. Pemikiran yang ngawur ini seperti yang saya sebut di atas, tentu dilandasi narasi-narasi sejarah yang gagal saya ambil ibrahnya.

Glorifikasi atas perjuangan Mbah Wahab –meski memang perjuangan beliau layak dihargai setinggi-tingginya—dan sikap mempertanyakan peran Mbah Hasyim ini semakin menemukan “gongnya” saat saya mengenyam pendidikan di Tambakberas. Bukan, ini bukan salah orang-orang yang mengisahkan perjuangan Mbah Wahab pada saya. Murni ini adalah kegagalan saya dalam berpikir kritis. Pertanyaan-pertanyaan semacam “mengapa tidak Mbah Wahab saja yang menjadi Rais Akbar” masih sering berkelindan. Dengan segala perjuangan Mbah Wahab dalam memprakarsai berdirinya Nahdlatul Ulama, He deserved it, kalau kata anak muda.

Entah setan apa yang merasuki, pikiran liar itu tidak bisa saya hilangkan hingga saya “makan bangku kuliah”. Ditambah dengan lingkungan dekat yang cukup aktif berorganisasi dan berdiskusi seputar perilaku organisasi, saya justru melihat pemikiran liar tersebut dengan teropong bargaining position. Perilaku saya ini jika dipikir-pikir lebih mirip dengan orang-orang Syi’ah yang mengkultuskan Sayyidina Ali. Saya tidak pernah menemukan jawaban atas pertanyaan itu hingga hari ini. Sampai pada akhirnya, bincang virtual dengan Ning Bela (dzurriyah Tambakberas dan seseorang yang memiliki “darah biru” Muassis NU) siang hingga sore tadi menampar saya dengan begitu keras.

Ning Bela bercerita bahwa beliau pernah memiliki pertanyaan serupa. Bedanya, beliau memiliki kesempatan dan keberanian untuk bertanya pada KH. Ahmad Mustofa Bisri –yang akrab disapa Gus Mus. Dalam suatu kesempatan sowan bersama kawan-kawan KMNU UGM, Ning Bela menanyakan hal tersebut dan jawaban yang didapatkan cukup singkat. Gus Mus ngendikan kurang lebih seperti ini “Kui saking tawadhu’e Mbah Wahab.”

Dalam bukunya, Asad Syahab juga menuliskan bahwa Mbah Wahab muda bisa saja mengajak teman-temannya untuk mendirikan NU tanpa menunggu restu dari Mbah Hasyim. Namun haqqul yaqin, Nahdlatul Ulama tidak akan sebesar ini. Hal yang patut kita syukuri sekaligus kita teladani adalah Mbah Wahab tidak pernah melakukan pengandaian Asad tersebut. Beliau benar-benar menunggu guru sekaligus misanannya tersebut memberi restu. Sebagaimana yang dikatakan Gus Mus, sikap tawadhu’ adalah keteladanan yang bisa kita ambil ibrah dari keping-keping sejarah tersebut. Jika boleh meminjam bahasa teman-teman Gusdurian, benarlah jika Mbah Wahab sudah meneladankan, saatnya kita melanjutkan. Dan tepat di hari lahir NU yang ke-95 ini, luruh sudah segala “bias Mbah Wahab dan Tambakberas” saya selama ini.

Penulis: Hikmah Imroatul Afifah (Santri Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas Jombang & Alumni PKPT IPPNU Unisma)

Sumber: tirto.id

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *