Telaah Sesajen di Nusantara

Sesajen: merupakan aktualisasi dari pikiran, keinginan, dan perasaan pelaku untuk lebih mendekatkan diri kepada Tuhan.

Peristiwa Viral yang barusan terjadi, tentang sesajen yang dibuang oleh seorang oknum di lokasi bencana erupsi Gunung Semeru di Kabupaten Lumajang, Jawa Timur, menjadi sorotan dari berbagai pihak. Termasuk, Dosen Ekonomi Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Syariah Riyadlul Jannah (STIES RIJAN) Mojokerto, Budiyono Santoso (Gus ion).

Bacaan Lainnya

Gus Ion menyatakan, dalam melakukan dakwah, baik dakwah bil lisan dan juga dakwah bil hal, aksi membuang sesajen dan mengatakan mengundang murka Allah, itu dinilai kurang baik dan jauh dari norma yang ada. Ia menilai kejadian sesajen yang dibuang tidak  mencerminkan dakwah yang diajarkan oleh Kanjeng Nabiyuna Muhammad SAW, para Sahabat dan sampai pada Wali Songo yang lebih mengedepankan toleransi atas keberagaman budaya dan keyakinan masyarakat jawa pada saat itu, “ katanya, Jumat 14 Januari 2022

Dalam menyebarkan agama  Islam di Indonesia khususnya pulau jawa, Wali Songo tidak menyalahkan dan memberantas keyakinan yang telah ada dan tumbuh berkembang  di tengah masyarakat, dan tentunya  juga tidak melakukan pengrusakan dan aksi buang sesajen seperti yang viral saat ini,” tutur beliau yang juga pengasuh Ponpes AGUNG Al Mubarok Malang ini”.

Seandainya dulu Wali Songo juga membuang sesajen yang sudah menjadi budaya dan keyakinan pada saat itu. Pastinya yang akan muncul adalah penolakan terhadap dakwah yang dilakukannya. “imbuh gus ion”

Dia menilai jika kita melihat ada sekelompok masyarakat yang melakukan ritual agama yang menyalahi syariat Islam maka hal itu adalah bagian dari sebuah proses budaya dan pemahaman nilai Islam yang belum sempurna “ Lakum Diinukum Waliyadiin (لَكُمْ دِيْنُكُمْ وَلِيَ دِيْنِ)” bagimu agamu dan bagiku agamaku.

Oleh sebab itu, pria yang sedang menyelesaikan program doktor di UIN Maliki Malang ini meminta dan menghimbau kepada para dai untuk lebih mendalami Ilmu Keislamannya dan belajar strategi berdakwah yang baik dengan mempelajari keyakinan dan budaya masyarakat  setempat, sebelum seorang dai itu turun/ terjun  ke masyarakat untuk berdakwah. Karena di dalam beragama tidak ada paksaan (لَآ اِكْرَاهَ فِى الدِّيْنِۗ) tidak ada paksaan dalam beragama.Wallahu A’lam semoga bermanfaat

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.