Tantangan dan Elegansi Sikap Pelajar NU di Era Disrupsi Digital

Oleh : Ahmad Faqihil Ghufron

Saat ini kita sedang berada atau memasuki era disrupsi. Disrupsi ini mengakibatkan segala sesuatu yang berjalan teratur dan struktur tiba-tiba harus berubah secara mendadak akibat lahirnya sesuatu yang baru . Salah satunya adalah hadirnya teknologi ditengah peradaban umat manusia. Disadari atau tidak, peradaban manusia mulai perlahan berangsur mengalami perubahan yang tidak terprediksi. Kehidupan manusia digiring masuk pada era revolusi teknologi yang secara fundamental telah mengubah cara hidup manusia diberbagai sendi kehidupan. Situasi ini juga menggiring kita, khususnya para pelajar NU agar secepat mungkin bisa beradaptasi dan melakukan penyesuaian terhadap era revolusi teknologi yang penuh dengan tantangan disrupsi ini. Dalam menghadapi zaman yang semakin dinamis, kita sebagai pelajar NU dituntut untuk bisa cepat beradaptasi dan bisa melakukan perubahan-perubahan positif yang sesuai dengan kebutuhan zaman. Pelajar NU juga dituntut untuk mempunyai daya pikir yang kreatif, inovatif dan solutif yang memungkinkan bisa menjadi pemilik panggung perubahan ini.

Bacaan Lainnya

Nahdlatul Ulama (NU) sendiri pun mengambil langkah cepat, cerdas dan akurat dalam menyikapi tantangan era revolusi teknologi ini, ditandai dengan konsistensinya yang kita temui diberbagai media online yang bertujuan untuk mengimbangi atau bahkan merebut ruang dakwah islam intoleransi yang berpotensi memecahkan kerukunan berbangsa dan bernegara. Diyakini atau tidak, distribusi NU untuk bangsa ini sangat begitu besar sehingga bisa diyakini NU merupakan menjadi bentengnya keutuhan NKRI. Peran NU dalam membela negara ini dimulai sejak sebelum bangsa Ini merdeka. Dan tercatat gelar Pahlawan Nasional melekat di Sembilan Ulama NU. Eksistensi NU dalam perannya sebagai juru perdamaian ditengah perbedaan umat beragama belum bisa digantikan oleh siapapun. Pada zaman digitalisasi ini NU pun diharapkan menjadi terdepan dalam membangun islam yang ramah dan damai dengan cara menjadi pemilik panggung berbagai platform media sosial.

Salah satu tantangan terbesar yang harus dihadapi umat muslim secara global adalah menjadikan islam relevan dalam kehidupan dunia post-modern seperti sekarang ini. Begitu pula tantangan yang dihadapi para pelajar NU, apakah nilai-nilai keilmuan yang kita pelajari dari hasil diskusi, belajar dipesantren ataupun di bangku sekolah atau bahkan di bangku kuliah memiliki peranan strategis dan bisa menjawab tantangan serius dalam kehidupan modern ini? Tantangan ini bahkan tidak terjadi sebelumnya yang mengharuskan kita lebih keras lagi berupaya untuk berfikir, bertindak dan menjadi pribadi yang lebih produktif. Optimalaisasi peran pelajar menjadi urgent dalam menjawab tantangan kehidupan post-modern ini. Dan produktifitas merupakan salah satu optimalisasi potensi pelajar untuk mencapai sesuatu yang diharapkan. Produktifitas ini bisa kita implementasikan di dunia nyata maupun di dunia maya. Dengan melihat zaman sekarang yang memanjakan kita memalui kemudahan mengakses keseluruh dunia, harusnya hal ini harus kita manfaatkan sebaik mungkin dan bisa dijadikan wadah implementasi produktifitas bukan malah terperangkap dalam jebakan-jebakan negatifnya. Peran pelajar dalam dunia maya pun juga diperhitungkan oleh semua kalangan karena dunia masa depan berada dalam genggaman pelajar sekarang dengan diharapkan pelajar-pelajar sekarang tidak alergi terhadap media-media sosial yang berbau hal-hal positif. Lantas bagaimana jika kita sebagai pelajar masih membutakan diri dari realita yang terjadi? Sementara tantangan yang sengaja diporsikan dimasa depan sudah menanti.

Solusi untuk menghadapi tantangan-tantangan ini adalah produktifitas pelajar itu sendiri. Disamping produktif dalam dunia digital, pelajar NU harus juga produktif diberbagai bidang lainnya. Hal ini bertujuan agar kita bisa menguasai diberbagai bidang disetiap aspek kehidupan. Namun produktifitas saja belum cukup, disamping produktifitas pelajar yang optimal, seorang pelajar juga dituntut untuk peka dan bisa menerapkan keterampilan abad 21 yang bermuatan 4C, yaitu : Critical thingking (berpikir kritis), Creativity (kreatif), Communication (komunikasi) dan Collaborasi (kolaborasi) serta menggunakan keterampilan berpikir tingkat tinggi dalam menghadapi dan menyelesaikan tantangan-tantangan dikehidupan sehari-hari.

Ahmad Faqihil Ghufron | Waka 3 PKPT IPNU Unisma

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

2 Komentar