Strategi Perlawanan Kiai Hasyim dan Bung Tomo Saat Merebut Surabaya

bung tomo dan kiai hasyim

10 November menjadi tanggal bersejarah bagi bangsa Indonesia. Sebab, pada tanggal tersebut sekitar 150.000 pemuda yang dikomandoi oleh Bung Tomo berhasil merebut Surabaya dari invasi Inggris.

Pekikan takbir menandai perlawanan yang menggelora kala itu. Tembakan peluru, letusan granat, hingga penyobekan kain berwarna biru – kemudian tersisa merah dan putih – menjadi aksi heroik pasukan bung tomo merebut Surabaya. Konon, perang itu adalah perang terbesar dalam sejarah penjajahan.

Bacaan Lainnya

Namun, peristiwa 10 November tentu tidak jauh dari tercetusnya resolusi jihad dari K.H. Hasyim As’ari. Tepat pada tanggal 21-22 Oktober 1945, K.H. Hasyim Asyari mengumpulkan wakil-wakil dari cabang NU di seluruh Jawa dan Madura di Surabaya. Dalam pertemuan tersebut, diputuskan bahwa melawan penjajah sebagai perang suci alias jihad.

Rencana untuk menggempur tentara sekutu dan NICA di Surabaya ternyata sempat diundur sehari. Penggempuran pertahanan sekutu dan NICA awalnya direncanakan pada 9 November 1945.

Kala itu, Bung Tomo meminta restu kepada Kiai Hasyim Asyari untuk melakukan penyerbuan. Namun, Kiai Hasyim Asyari meminta agar penyerangan ditunda. Alasannya karena Kiai Abbas Abdul Jamil dari Cirebon, Jawa Barat belum sampai ke Surabaya.

“Kiai Hasyim Asyari menunggu Singa dari Jawa Barat, yaitu Kiai Abbas Abdul Jamil,” kata keluarga Pondok Pesantren Buntet, Cirebon, Ahmad Rofan menukil dari Republika.

Kiai Abbas dan Pesantren Buntet memang sangat diperhitungkan kala itu. Terlebih di pesantren itu, selain ilmu-ilmu agama, Kiai Abbas juga mengajarkan seni bela diri kepada santrinya.

Hal ini menjadi modal bagi para santri untuk mempertahankan kemerdekaan negeri dari penjajah. Pondok pesantren bunten menjadi basis penting laskar-laskar jihad seperti Hizbullah, Sabilillah, atau Pembela Tanah Air (PETA). Di luar itu, kiai Abbas juga membentuk dua regu laskar santri yakni Asybal dan Athfal.

Kiai Abbas memobilisiasi massa, terutama dari kalangan santri. Ia memberikan komando untuk ikut dalam barisan perjuangan rakyat Indonesia di Surabaya.

Setelah Kiai Abbas Abdul Jamil tiba, penyerangan baru dilakukan. Kiai Abbas bertindak sebagai salah satu komandan perang. Hingga kini, peristiwa yang terjadi pada 10 November 1945 tersebut diperingati seluruh bangsa Indonesi sebagai hari Pahlawan.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *