Silaturahmi, Dakwah dan Wirausaha

Oleh: Noor Shodiq Askandar 

Beberapa hari lalu saya menghubungi seorang kyai, karena mau pesan jemblem yang diproduksinya. Masakan jawa kuno yang cukup enak. Pohong kukus yang dibikin bulat dan diisi dengan gula merah. Enak dimakan saat hangat keluar dari penggorengan. Pokoknya mak nyus. Bikin pelanggan kangen dan sulit melupakannya.

Bacaan Lainnya

Bukan jemblemnya yang ingin saya ceritakan, tapi kyai yang punya ciri khas pakai sandal lily warna biru ini menggabungkan tiga hal sekaligus. Menguatkan silaturrahmi, tetap berdakwah dengan gayanya yang khas, sekaligus berwirausaha.

Silaturrahmi adalah sesuatu yang sangat dianjurkan oleh Rasulullah Muhammad saw. Barang siapa yang ingin dipanjangkan umurnya dan dilapangkan rizqinya, maka perbanyak dan jalinlah silaturrahmi (al hadits). Sangking pentingnya silaturrahmi, sampai diingatkan bahwa orang yang memutus tali silaturrahmi akan berdosa.

Dengan jalinan silaturrahmi, akan banyak kawan. Jika kawan dijadikan sebagai jaringan bisnis, maka dapat meningkatkan omset penjualan. Kalau omset penjualan naik, maka pendapatan juga akan naik. Jika pendapatan naik, maka kesejahteraan juga akan meningkat. Orang yang hidupnya lebih sejahtera, berarti harapan hidupnya juga lebih Panjang.

Berdakwah juga sangat dianjurkan dalam Islam agar kehidupan menjadi lebih baik. Sampaikan kebenaran dan kebaikan itu, walaupun dengan satu ayat. Ajaran Islam juga menganjurkan manusia untuk selalu berdakwah dan selalu berlomba lomba dalam kebaikan serta dengan cara acara dan contoh yang baik.

Hal yang ketiga adalah terus berwirausaha dengan menghasilkan produk dengan meningkatkan nilai tambah. Tepung dan kacang, jadi rempeyek. Ketela pohon dan gula merah dipadukan jadi jemblem yang nikmat, kopi yang dikemas dengan lebih baik, adalah proses peningkatan nilai tambah sehingga nilai ekonominya juga meningkat. Begitulah hakekat menjadi wirausaha.

Wirausaha juga menjadi konsen Rasulullah Muhammad sejak kecil. Hidup Rasulullah saw hamper 32 tahun dilalui dengan menjadi seorang wirausahawan. Mulai dari menggembala kambing, ikut bergabung dalam kelompok bisnis, sampai dengan menjadi pebisnis mandiri.

Beberapa hadits menunjukkan betapa pentingnya wirausaha ini. Rasulullah saw bersabda bahwa tidak ada rizqi yang lebih baik, kecuali dari hasil usaha kedua tangannya sendiri. Hadits lain : Sembilan dari sepuluh pintu rizqi itu ada pada dunia usaha dan perdagangan.

Memadukan tiga hal sekaligus ini sebetulnya bisa dilakukan setiap orang. Akan tetapi terkadang orang tidak mau repot. Padahal jika mau berusaha melakukannya dengan istiqomah, hasilnya akan dasyat luar biasa. Sekali mendayung, dua tiga pulau terlampaui. Begitulah pameo yang sering kita dengar. Keuntungan diperoleh. Begitu juga pendapatan didapat. Persahabatan juga tetap langgeng.

Mensyiarkan Islam yang rahmatan lil aalamin juga terus bisa dilakukan. Semua ini akan tergantung pada kemauan kita semua.

Penulis: Noor Shodiq Askandar adalah Ketua LP Ma’arif PWNU Jatim dan Wakil Rektor 2 Unisma

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *