Sembilan Hal Yang Sulit Ditiru Dari Alm KH Najib Abdul Qodir

Kabar duka kembali menyelimuti umat Islam terutama warga NU. Pasalnya, Pengasuh PP. Al-Munawwir Krapyak Yogykarta KH Najib Abdul Qodir Munawwir meninggal dunia jelang magrib, Senin, 4 Januari 2021.

Kyai Najib Abdul Qodir merupakan cucu dari KH Muhammad Munawwir dan anak dari KH Abdul Qodir Munawwir yang merupakan keluarga pengasuh pondok pesantren di Krapyak, Yogyakarta secara turun temurun. Namun, kepergian mbah yai Najib panggilanya, selalu meninggalkan ilmu dan nasehat untuk kita yang masih hidup.

Bacaan Lainnya

Menurut Abdul Haris Bin Abdul Hamid, ada sembilan hal yang sulit di tiru dari Mbah Kyai Najib. Pertama beliau  terkenal dengan sikap tawadu’nya. Dihadapan semua orang beliau selalu dingkluk. Mungkin orang mengatakan itu adat, tetapi dingkluknya beliau bukan sekedar adat tapi Tarbiyah mahal dan itu berlaku saat beliau bertemu siapapun.

Selain itu, Keistiqomahannya. Semasa hidup, Mbah yai Najib hanya mengajar satu fan ilmu (Qiroat Al Qur’an) kalau sudah mengajar tidak mengenal waktu, pagi, siang, sore malam, bahkan saat kundur dari tindakan sesampai di dalem tetap mengajar santri sampaai tengah malam. Kadang hingga menjelang pagi, tertidur kelelahan di tempat ngaji adalah pemandangan yang biasa. Beliau bukan hanya Ahlul Qur’an di zaman ini, tetapi juga pengajar Al Qur’an dan mengajarkan bacaan yang fasih serta akhlak mulia dalam praktek kehidupan sehari hari.

Meski dianggap ulama besar, beliau tidak pernah menolak undangan. Baik doa khotmil Qur’an, bahkan saat di undang menjadi Rois tahlil di desa yang pelosok sekalipun beliau tetap hadir. Beliau seaka tidak memandang orang besar maupun kecil untuk berkhidmat. Sehingga, tak pernah beliau ini mengecewakan orang yang mengundangnya.

Sementara itu, yai najib juga selalu grapyak kepada siapapun. Orang yang pernah bertemu Beliau akan berkomentar sama. Beliau selalu tersenyum kepada siapapun, tidak kaku dan selalu menyenangkan orang yangg berada di sampingnya.

Dalam khidmatnya di NU. Beliau sangat getol memberikan semangat Qur’aniyyah dan NU, kehilangan beliau bukan hanya kehilangan orang yang mencintai Al Qur’an tetapi juga Nahdlatul Ulama. Semangat beliau berkhidmah sangat luar biasa untuk keluarga, pondok pesantren, masyarakat maupun bangsa negara baik dengan majlis Al  Qur’an (semaan) maupun majlis doa.

Keenam yakni tentang kesabaran yang tidak ada batas. Menurutnya beliau ini tidak bisa marah. “Beliau yang santun, bahkan menghadapi santri dengan berbagai macam karakater tetap santai, tenang , mendoakan baik. Terang Abdul Haris

Disisi lain belia juga sangat sederhana, penampilan beliau yang selalu sederhana, tidak berlebihan dalam sehari hari. Beliau tidak pernah menunjukkan kemewahan harta. Dengan tampilan khas kyai dan selalu menunduk jika ketemu dengan orang, memperlihatkan sifat keserdahanaan beliau.

Ikhlas mengorbankan waktunya hanya untuk membahagiakan orang lain hingga akhir hayat. Sebagai ahli al-Qur’an sangat menghindari ghibah,  hasud iri dan dengki.  “dan masih banyak lagi kebaikan kebaikan yang tidak mampu saya ceritakan semuanya, masih sangat sedih kehilangan beliau.” Tandanya.

Kepergian ulama selalu memberikan warisan ilmu dan akhlak yang patut ditiru oleh semua masyarakat. Terutama ditengah kondisi Indonesia yang sedang krisis akhlak. Atas nama redaksi NU Voices kami turut berbela sungkawa atas kepergian Mbah Yai Najib. Semoga kita bisa meniru tindak tanduk beliau dan bisa meneruskan apa yang telah beliau perjuangkan.

Pewarta: Heru
Editor: Malik

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.