Restu Mbah Hasyim dan Mbah Khalil Menentukan Ketua PBNU Mendatang

  • Whatsapp
Foto Mbah Hasyim dan Mbah Kholil

Oleh: Abdul Adzim Irsad

Sayyidina Umar Ibn Al-Khattab ra, ketika dilantik menjadi seorang khalifah mengantikan Abu Bakar Al-Siddiq, beliau berkata “Sungguh engkau telah menyulitkan para khalifah setelahmu wahai Abu Abu Bakar”.  Betapa beratnya melenadani keshalehan Sayyidna Abu Bakar Al-Siddiq ra, sampai-sampai Umar Ibn Al-Khattab ra membuat statatemen demikian.

Bacaan Lainnya

Dalam beberapa literatur, sungguh Rasulullah SAW menyebut bahwa dirinya ingin mengambil Abu Abu Bakar sebagai “kekasihnya”. Akan tetapi tetapi ia adalah saudara dan sahabatku, sedangkan Allah telah menjadikan sahabat kalian ini (diriku) sebagai khalilnya. (HR. Bukhari). Banyak pujian Rasulullah saw. kepada Abu Bakar Al-Siddiq, yang memang memiliki sifat-sifat istimewa bagi baginda Rasulullah saw. Imam mam Al-Muzani ra, berkata “Abu Bakar ra, adalah manusia terbaik dan terpilih sepeninggal Nabi saw.” Juga sosok paling dicintai Rasulullah saw.

Kedermawanan, zuhud, setia, serta kecintaannya kepada Rasulullah saw. dan keluarganya sulit tertandingi oleh siapa-pun. Syekh Muhammad Makki Al-Bakistani pengajar tafsir di Masjidilharam, beliau pernah menyampaikan dalam pengajian dalam pengajiannya, yaitu pada sekitar tahun 2000-an “QS Al-Lail, disebut juga dengan surat Abu Bakar, karena isinya terdapat sifat-sifat mulia dari Khalifah Abu Bakar Al-Siddiq r.a.”

Nah, K.H. Muhammad Hasyim Asaary mendapat pengakuan dari ulama-ulama Makkah sebagai “penghafal Alquran”, sekaligus penghafal hadis Rasulullah saw., bisa dikategorikan pakar hadis. Hampir semua ulama di Nusantara, sanad hadisnya, mulai kitab Bukhari, Muslim, Al-Tirmidzi, Abu Dawud, selalu merujuk kepada Mbah Muhammad Hasyim Asaary. Bahkan, sebagian wirid dan hizib, juga merujuk kepada Mbah Hasyim Asaary.

Mbah Hasyim juga menjadi kebanggan tokoh ulama-ulama Madrasah Al-Saulatiyah Makkah, karena selama di Makkah, beliau pernah belajar kepada Syekh ulama-ulamanya. Ada tiga tokoh yang Indonesia yang menjadi kebanggaan Madrasah Al-Saulatiyah, Mbah Hasyim Asaary, Syekh Zainuddin, Syekh Husain Mustafa Al-Mandili. Ketiganya sering disebut di majalah bulanan, serta lulusan terbaik Al-Saulatiyah.

Selama bermukim di Makkah, K.H. Hasyim Asaary belajar di Madrasah Al-Saulatiyah, Khalaqah Masjidilharam, dan Khalakah-Khalaqah Ulama Makkah. Konon, beliau juga sering menyepi di Jabal Noor, tempat Rasulullah SAW menerima wahyu pertama. Jadi, mengikutu jejak KH Muhammad Hasyim Asaary sangat berat, persis seperti apa yang dikemukakan oleh Umar Ibn Al-Khattab ra.

Dalam bidang hadis, K.H. Muhammad Hasyim lebih nyaman belajar ilmu hadis kepada Syekh Muhammad Mahfuz Al-Turmusi, sehingga mendapatkan lisensi (Ijazah) dari beliau, kemudian mengahajarkan kepada murid-muridnya di Indonesia. Alquran, Hadis, Wirid, Hizib, serta Thariqah Naqsabandiyah melekat kepada pribadi Mbah Muhammad Hasyim Asaary.

Sumpah K.H. Muhammad Hasyim Asaary

Sebelum K.H. Hasyim Asaary kembali ke Tanah Air, beliau bersama santri-santri Makkah berkumpul dan membincangkan kondisi negara-negara islam yang sedang dijajah. Mereka, sepakat akan berjuang hingga titik darah terahir di dalam membela tanah airnya. Pada bulan Ramadhan, mereka berkumpul di depan pintu Multazam bermunjat kepada Allah SWT agar bisa berjuang membela islam. Kalimat yang paling cakep “Berjuang di jalan Allah, tidak ingin mendapat balasan dan bagian”.

K.H. Muhammad Hasyim Asaary lebih tertarik mendirikan Pondok Pesantren, dan mendirikan Jamiyah NU, bersama santri-santri Syekh Muhammad Mahfudz Al-Turmusi Makkah, sepert; K.H. Wahab Hasbullah, KH Bisri Syamsuri, dan KH Muhammad Siddiq Jember. Ketiganya pernah belajar agama kepada Syekh Muhammad Khalil Al-Bangkalani Madura. Bahkan, KH Muhammad Siddiq dan KH Muhammad Hasyim pernah belajar kepada Syekh Sholih bin Umar Al-Samarani (Shalih Darat).

Nama-nama pendiri NU, adalah santri Syekh Muhammad Mahfudz Al-Turmusi selama di Makkah. Juga santri-santri dari Mbah Muhammad Khalil Bangkalan. Ketiganya akhirnya, bersama-sama mendirikan NU, demi menjaga akidah Ahlussunah Waljamah, mendirikan NKRI, mengusir penjajah hingga titik darah terahir.

Juga, Mbah Hasyim Asaary sosok pejuang (Mujahid) di jalan Allah, melawan orang-orang Belanda, Jepang pada waktu itu demi mendirikan NKRI (Negara Kestuan Republik Indonesia). Sebagai seorang ulama, beliau juga menulis karya-karya ilmiyah dengan beragam judul. Sehingga sangat sulit mengikuti jejak Mbah Hasyim Asaary.

Semua masyarakat taat kepada Mbah Hasyim Asaary, mulai para santri, hingga pada ulama dan habaib, TNI, ikut serta berjuang melawan penjajah Belanda setelah munculnya “Resolusi Jihad”. Mbah Hasyim membentuk dua laskara “Laskhar Sabilillah dan Laskhar Hizbullah” yang dipimpin oleh K.H. Masjkur dan KH Usman Mansoer. Keduanya adalah santri sejati dari Malang. Untuk mengenang perjuangan kedua laskar, maka dibangun Masjid Sabilillah di Malang, dan Masjid Hizbullah di Singosari-Malang.

Sepeninggal Mbah Hasyim

K.H. Hasyim Asaay satu-satunya pendiri NU yang sangat sulit ditandingi, karena begitu dalam ilmu dan spritualnya. Ternyata, yang mampu mengantikannya adalah K.H. Wahab Hasbullah, yang selevel ilmu dan wiridnya, beliau satu guru, baik dalam bidang ilmu hadis, maupun ilmu hakekat. K.H. Khalil Bangkalan, Syekh Muhammad Mahfudz Al-Turmusi, Syekh Bakri Shata, dan Sayyid Zaini Dahlan.

Mbah Wahab, setiap pergi ke Makkah, selalu memberikan kuliah tamu di Madrasah Darul Ulum Al-Diniyah di Makkah. Beliau pakar hadis, yang sering disebut oleh Syekh Muhammad Yasin Al-Fadani. Juga, di sebut oleh Mbah Mahfuzd Al-Turmusi sebagai santrinya. Mbah Wahab memiliki banyak Hizib, termasuk Hizib Al-Thair yang dibagikan kepada santri-santrinya yang sedang perang melawan penjajah.

Dua santri beliau adalah K.H. Masjkoer Malang yang memimpin Laskar Hisbullah dan K.H. Dhofir Ibn Abdi Salam (menantu K.H. Muhammad Siddiq) untuk wilayah Jember dan sekitaranya. Satu lagi Hizib beliau yang ampuh, yaitu Hizib Gertak Macan, yang tidak boleh di tulis. Hizib ini dimiliki oleh K.H. Marzuki Mustamar, ketua PWNU yang sekarang menjadi kandidat ketua PBNU.

Nah, saat ini sedang banyak asumsi, siapa yang akan menjadi ketua PBNU mengantikan K.H. Said Aqil Siradj yang telah rampung masa jabatanya. Beredar nama-nama tokoh, seperti; Gus Yahya, K.H. Said Aqil, K.H. Mutawaqil, K.H. Marzuki Mustamar. Bisa jadi, akan bermunculan nama-nama baru, seperti Prof. Dr. Nadirsyhah Husain, Prof. Nasarudin Umar, Dr. K.H. Khalil Nafis. Dan yang paling asyik menjadi perbincangan adalah Gus Bahauddin Nursalim. Masing-masing memiliki kelebihan, dan kekurangan sebagai seorang manusia.

Siapa-pun akan kesulitan menyamai keshalehan, zuhud, dermawan, setia, serta perjuangan Mbah Hasyim, Mbah Wahab, Mbah Bisyri Samsuri. Mereka adalah santri-santri langsung Mbah Mahfuzd Al-Turmusi, dan Mbah Khalil Bangkalan, serta Mbah Shalih Darat.  Minimal, kandidat-kandidat di atas, memiliki kemampuan sebagai ahli Alquran, hadis, Fikih, serta seorang sufi.

Masyarakat awam akan melihat kiprah serta loyalitas terhadap NU, baik dalam masalah akidah,bermadzhab, tasawauf, pendidikan, kesehatan, ekonomi. Jejak digital masing-masing sudah ada. Yang jelas semua adalah NU murni 99 persen. Hanya saja, jejak digital para kandidat akan menentukan langkahnya. Juga, yang tidak bisa dilihat adalah, hubungan mereka dengan Mbah Khalil Bangkalan, Mbah Hasyim, Mbah Mahfuzd Al-Turmusi, Mbah Wahab, Mbah Bisri Samsuri. Bahkan, dalam dunia sufi, mereka-pun aktif ikut musywarah bersama para wali, dan Nabi Khidir di dalam merumuskan siapa yang layak dan pantas menjadi ketua PBNU mendatang.

Malang, 12/10/ 2021

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *