Relasi Murobbi: Santri Di Era Disrupsi

Oleh Ahmad Zainal Abidin

Sesaat kita pejamkan mata pelan, kosongkan cangkir kopi lalu buka perlahan menjadi jelmaan kamera hati, agar frame cinta terwujud di bumi kenyataan.

Bacaan Lainnya

Sebelum membaca catatan ini, saya ingin mengajak teman-teman tentang cerita heroik yang merubah jaman.

Tahukah kawan, bahwa jaringan hotel terbesar di dunia bernama AirBnb tak memiliki satupun kamar layaknya jaringan hotel raksasa model Aston.
Lalu jaringan transportasi darat terbesar di Asia bernama Gojek dan Grab tak memiliki satupun armada semodel Blue bird.
Belum lagi Tokopedia yang merugi tapi memiliki valuasi diatas 10 milliar dolar, sementara gedung mall mewah di jalan Sudirman Jakarta hanya bernilai 7 triliun rupiah.

Mereka adalah bukti bahwa Intengible aset (aset tak terlihat tapi bisa di ukur) jauh lebih berharga ketimbang Tengible aset (aset yang terlihat seperti properti, uang, kendaraan dll).

Boleh jadi saat start-up diatas yang telah menjadi Decacorn (perusahaan dengan valuasi diatas 10 milliar dolar) bermula dari sosok yang kerap di remehkan, menjual mimpi tentang masa depan bernada hayal, hingga kerap mendapat penolakkan dari calon investor.

Itulah cerita singkat bagaimana fenomena Disrupsi ini merubah dunia, yang mau tak mau memaksa kita untuk berhadapan pada dua pilihan, beradaptasi atau terlindas oleh jaman.

Kita sekarang menyaksikan sendiri bahwa fenomena ini merambah hingga berbagai lini kehidupan, dan pelan juga kita ketahui fenomena ini telah bersentuhan dengan dunia dakwah. Iya dakwah.

Kini, menjadi seorang da’i nampak begitu mudah, seolah tidak perlu lagi menguasai 12 fan/cabang ilmu agama yang hingga kini tetap dipelajari oleh santri di pondok pesantren.
Boleh jadi, dengan bermodalkan potongan hadist yang tidak utuh “sampaikanlah walau satu ayat” menjadi landasan kuat sebagian kalangan untuk tampil genit di depan kamera. Karena kini jadi ustadz itu keren.

Seperti Airbnb, tokopedia dan gojek, menjadi da’i terkenal melalui media sosial seolah tak perlu lagi latihan spiritual layaknya santri. Boleh jadi, sebagian da’i ini tak memiliki atau mengelola pesantren, bahkan tak pernah mengecap pendidikan pesantren/sekolah agama sama sekali, tapi tetap memiliki pengaruh besar dan menginfluence banyak orang, karena kini, follower adalah koentji.

Lalu dari mana sebagian dari mereka belajar ilmu agama? Ada yang mengaku belajar dari buku, youtube, bahkan dari Rosul dan para sahabat langsung.
Seolah sanad tak lagi penting!

Lalu kemana para santri dan alumni pondok pesantren/sekolah agama? Ada dimana mereka?

Tenang, mereka tetap ada, seperti biasa mengurus majelis taklim yang mulai sepi, ada juga yang door to door mengajak anak kecil mengaji, menjemput mereka di galangan sawah selepas main bola di senja hari. Mereka tetap eksis walau tak pernah narsis, dengan metode lama yang diajarkan para Murobbi.

Menebar ilmu adalah sebuah pengabdian, sebuah jalan dan pilihan, walau acap kali di remehkan dan tak mendapat pengakuan, but the show muat go on, pokoknya tetap ngaji, walau dunia terkena gempa berkali-kali terkena disrupsi.

Hari ini, bahagia rasanya saat Murobbi dan orang tua ideologis kami memberi wejangan moril tentang pentingnya para alumni pesantren untuk menjadi bagian dari disrupsi.

“Anakku, terjunlah dalam media sosial, penuhi jaman 4.0 ini dengan pesan moral, sampaikan pesan cinta Baginda Nabi dengan gaya dan bahasa yang mereka gemari.”

Karena Tuhan sejatinya adalah milik seluruh semesta, milik semua kalangan, tak ada lagi sekat dan jurang pemisah antara yang takwa dan pendosa, semua berhak memiliki kasih sayang Tuhan.

Pesan cinta ini bisa sampai pada mereka yang hanya sanggup mendengarkan tausiah sambil rebahan, maka tak apa, karena semua dari kita memiliki permulaan, terus saja melangkah walau perlahan.

Pesan agama bukan untuk gagah-gagahan mengumpulkan follower, bukan sebuah perlombaan siapa paling banyak jumlah penganut keyakinan ini dan itu, karena di akhirat kelak hanya amal kita yang jadi sandaran, bukan lagi pencapaian.

ada yang bergerak dalam bidang usaha dan tetap nyantri, jadi seniman dan pejuang literasi, semua tetap dalam koridor mendapat ridho Illahi, karena apapun karya kita kelak akan di hisab pada pengadilan akhirat nanti.

Hari ini, Murobbi dan santri tetap sebuah kesatuan dalam era metaverse yang akan tiba tak lama lagi. Kami tetap patuh pada dawuh, karena sejauh manapun perahu kehidupan berlayar, dermaga cinta Murobbi akan selalu jadi tujuan kembali.

Santri telah dibekali intengible aset berupa ilmu dan akhlak, dengan izin yang maha kuasa akan selalu beradaptasi dengan jaman.

Jadi, mari berteman dengan Disrupsi, dia hadir bukan untuk di takuti. Ketimbang memusuhi, ada baiknya kita jadi bagian dari perubahan ini, bukan melawan apalagi diam lalu terlindas jaman.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *