Refleksi 98 NU, Pesan KH Marzuki Mustamar Untuk Warga Nahdliyin

(Tulisan ini merupakan petikan Sambutan KH Marzuqi Mustamar atas nama perwakilan PWNU Jatim dalam acara Konfercab Kab Malang 2016)

Menjadi tokoh NU yang berwibawa dan mandiri adalah kebutuhan ditengah kondisi umat. Karena agama islam itu adalah agama yang
يعلو ولايعلى عليه (tinggi dan tak dapat tertandingi). Sebagai ulama yang umaanau rusul (pemangku amanat para Rosul), kita punya kewajiban merubah kemunkaran menjadi kebaikan.

Hal ini sesuai dengan sabda Nabi punya kewajiban menasihati orang pada kebaikan dan kesabaran, sebagai mana firman Allah:
وتواصوا بالحق وتواصوا بالصبر.
Oleh karena itu, jika kita tidak punya wibawa, maka orang yang kita nasihati, akan tidak akan hormat kepada kita. Sangat sulit rasanya tugas pemimpin untuk amar maruf nahi anil’ munkar jika  tidak memiliki wibawa. Dan tidak akan datang wibawa, jika seseorang mencintai dunia (ahaaba dunya). Sesuai dengan sabda Nabi Muhammad saw

إذا احبت امة الدنيا نزعت منها هيبة الإسلام

“Kalau ummat ku sudah gila dunia, maka wibawa agama akan di cabut oleh Allah ta’ala”

Gambaran kecil dari hilangnya wibawa seorang ulama adalah ketika ada salah satu pemmimpin di suatu kota melakukan keputusan atau memutuskan kebijakan yang menurut kita munkar, baik itu berupa pelolosan izin  sesuatu yang tidak seharusnya di beri izin. Apalagi kyai tersebut mendapat beberapa persen dari pelolosan itu, maka ketika Kyai atau Ulama akan memberikan tanbih  atau, maka pemimpin tersebut (mungkin) akan mengucapkan “kyai, ojo kereng-kereng. Njenengan sampun angsal bagian (Kyai, jangan tegas-tegas. Anda kan sudah dapat bagian)”.

Kalau sampai seperti itu, seakan-akan keberadaan Kyai yang berfungsi sebagai orang yang memberikan amar maruf nahi munkar tidak ada.
وجودهم كعدمهم (keberadaannya seolah tidak ada). Ada Kyai ataupun tidak ada, situasi nya sama saja. Tidak ada beda nya.

Untuk menjadi orang yang  berwibawa adalah dengan cara sebagai berikut:

  • Selalu lurus, istiqomah dan konsekuen.

Masing-masing dari kita berupayalah sekuat tenaga untuk tidak memiliki cacat moral. Seseorang yang pernah cacat moral, dan ketahuan orang lain, maka orang tersebut tentu tidak mungkin menjadi seseorang yang pemberani dalam menegakan kebaikan. Kalau dia tegas  sedikit saja, maka akan di ancam orang lain dengan ancaman rahasia-rahasia kecacatan moralnya nya akan di buka. Beda lagi jika dia memiliki sifat lurus, istiqomah dan konsekuen dengan apapun yang dia nasehatkan, maka kehadiran dan fungsi nya di tengah masyarakat akan berjalan efektif.

  • Akhlak yang baik.

Dengan akhlak yang baik ini, upayakan untuk tidak berhutang budi kepada pihak yang sebetulnya tidak suka kehadiran kita, tetapi dia berusaha mendekati kita untuk membantu atau menolong. Apalagi jelas-jelas orang yang menolong itu non muslim. Jangan sampai menghormati mereka yang menolong bukan karena sholihnya, tetapi karena kekayaannya. Karena jika orang tersebut menghormati kekayaannya, tanpa melihat status nya maka hal ini sesaui dengan sabda Nabi Muhammad Saw:

من تواضع لغنيٍّ لغناه ذهب ثلثا دينه

“barang siapa yang menghromati orang kaya karena kekayaannya, maka telah hilang dari  2/3 imannya”

Menasihati ataupun mengingatkan tidak mungkin bisa kita lakukan jika kita tidak memiliki wibawa, tidak mungkin wibawa jika kita bolak-balik meminta proposal pada orang yang kita nasihati itu. Kalau sampai NU atau tokoh penting di NU yang mestinya mengingtkan orang lain untuk menjauhi dari penyimpangan tetapi tidak mengingatkan nya karena tidak wibawa, maka siapa lagi yang akan mengingatkan mereka.

Mungkin dawuh nya Mbah Hasyim sesuai dengan situasi seperti ini“sopo wonge sing ngurusi NU, kanti ikhlas, mongko wong iku tak akoni santri ku”. Dawuh ini bermakna bahwa barang siapa yang benar-benar ikhlas mengurus NU maka di akui oleh KH Hasyim Asyari sebagai santri nya. B

Bagi warga Nahdliyin, di akui sebagai santri nya adalah kebahagian dan kebanggaan yang sempurna. Karenanya, ketika mengurus NU tidak usah khawatir tidak makan. Di NU itu banyak hajatannya. Yang biasanya, setelah pulang akan di bekali dengan berkat atau bingkisan. Ingatlah perut kita itu diisi dengan 3 piring nasi sudah merasa kenyang. Tetapi jika memang orang itu orang yang rakus, maka bukan hanya 3 piring, 3 truck nasi pun tidak akan cukup baginya. Nabi Muhammad SAW bersabda:

لو كان لابنِ آدمَ وادٍ مِن مالٍ لابتغى إليه ثانيًا، ولو كان له واديانِ لابتغى لهما ثالثًا، ولا يملأُ جَوفَ ابنِ آدَمَ إلَّا التُّرابُ، ويتوبُ اللهُ على من تاب

Nabi mengibaratkan orang yang rakus itu ketika mereka memiliki emas satu jurang gunung, maka dia akan berharap mendapatkan 2 jurang gunung. Jika sudaah memiliki 2 jurang gunung dari emas, maka dia akan berharap mendapatkan 3 jurang gunung dari emas. Dan seterusnya, sampai tidak terhitung. Sampai dia berakhir di kuburan (mati).

Oleh karena itu, dalam menurus NU, tekad kan dalam hati dan perbuatan bahwa tidak masalah jika harus miskin tetapi mandiri. Tidak mudah memninta proposal kepada siapapun. Terlebih kepada orang atau organisasi yang jelas-jelas tidak sepaham dan sependapat dengan kita.

  • Upayakan pengurus harian, di Malang khususnya,  memiliki kemampuan di atas rata-rata.

Jangan sampai ketika muqadimah, i’rab (tata bahasa arab) nya keliru. Jangan sampai yang alfiyah (salah satu kitab tentang gramatika bahasa arab yang memiiliki 1000 bait)  nya tidak hafal. Kalau bukan orang yang paling alim, maka tidak akan wibawa. Dan yang pasti, dia memiliki pengalaman yang cukup dalam ranah keorganisasian. Baik di kampus maupun di pesantren. Dan jika ada yang tidak seperti itu, maka terima lah jadi wakil. Tidak usah ngebet menjadi ketua.  Kalau seperti ini, maka yang bernafsu menjadi ketua dan tidak memiliki pengalaman akan mundur dengan sendirinya.

  • Zuhud (tidak cinta dunia)

Ketika dia menjadi seorang yang zaahid maka kekayaanya tidak akan di simpan sendiri dan tidak akan pelit-pelit mengeluarkan uang untuk kepentingan umat. Dan jika dia miskin, maka tidak gampang meminta-minta kepada orang lain. Intinya, tidak berani menjual NU dan Agama.

Bagi orang yang zuhud, di akui menjadi santri Mbah Hasyim sampai meninggal jauh nilainya dari segala-galanya. Syarat nya untuk di akui sebagai santri nya adalah dengan keikhlasan.

Zuhud itu tidak harus melarat yang penting adalah kaya dan miskin sama saja. Kaya tidak sombong, melarat tidak khuwatir. Karena dia hanya percaya pada Allah, bukan pada harta. Harta banyak belum menjamin kenyang,sehat ataupun sukses harta sedikit belum menjamin orang tersebut mati. Banyak orang yang melarat tidak punya harta, makan sisa tapi tidak mati-mati. Banyak juga orang yang kaya, yang secara makanan sehat terus, tapi tiba-tiba sakit dan mati mendadak. Karena semua itu adalah takdir dan kuasa nya Allah

ما شاء الله كان ومالم يشأ لم يكن

Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering melanggar pagar hukum, aturan-aturan ataupun anggaran dasar yang sudah di sepakati bersama di NU, semua itu penyebab nya adalah  karena kita masih cinta dunia. Tidak takut pada Allah. Padahal

حب الدنيا رأس كل خطيئة

 Cinta dunia sebagai pangkal dari setiap kesalahan. Maka ketika ada calon pemimpin  yang lebih mumpuni, tapi tidak kita pilih karena tidak memberikan ‘apapun’ dan lebih memilih calon pemimpin yang memberikan ‘sesuatu’ maka perbuatan seperti itu merupakan kesalahan yang besar.

Seperti halnya kita memilih calon mantu. Jika ada calon mantu yang alim, ganteng atau cantik, dan tawadhu, tapi secara ekonomi dia tidak begitu mapan langsung di tolak. Sementara ketika di lamar orang yang terlihat kaya, dan secara agamanya tidak begitu jelas apakah dia sholat atau tidak, bisa ngaji atau tidak dan lain sebagainya, langsung di terima. Ini adalah perbuatan yang salah besar. Dampaknya bukan di rasakan ketika itu. Tetapi, akan terlihat ketika orang tersebut benar-benar memimpin atau menjadi mantu kita.

Abah moro sepuh lamongan saya biasanya di kirimi surat undangan dari anggota IPNU atau IPPNU,  oleh abah moro sepuh orang tersebut di beri bekal banyak. Lebih dari cukup. Ketika di tanya oleh putra nya kenapa seperti itu, beliau berkata “Besok lek aku mati, sing nerusno NU bocah kui kok (Besok kalau saya meninggal, yang meneruskan NU, anak itu kok)”. Oleh karena itulah, Pejuang NU yang benar-benar pejuang berani kehilangan uang itu tidak ada apa-apanya. Tidak berarti bagi dia, asal benar-benar untuk perjuangan NU.

  • Keberanian (syajaah).

Keberanian maksudnya adalah orang yang memiliki sifat kendel dan tidak punya kepentingan. Kepentingan hanya satu liliiali kalimatillah. Jika orang punya kepentingan, maka dia tidak akan berani mengingatkan. Karena hal itu akan mengancam kepentingannya. Baik jabatan, status maupun kepentingan lainnya.

Tugas visi dan misi yakni dengan mempertahankan Aswaja Laa syiah wala wahabiah. Waspada lah kadang-kadang jika kita di ajak kaum wahabi untuk mnyerang syiah, tapi ujung nya jadi wahabi. Dan sebaliknya. Kita itu tengah-tengah. NU tetap NU. Nyerang syiah bener, nyerang wahabi nya benar. Yang jangan itu jadi teman keduanya. Ingatlah NU didirikan sebagai gerakan yang tugas pokok nya membentengi aswaja.

Penulis: Gus Ridwan (Santri Sabilurrosyad Gasek)

One Response

  1. Royser Maret 3, 2021

Leave a Reply