Puasa dari Pencitraan Diri

Oleh: Prof. Dr. K.H. Nadirsyah Hosen

Pencitraan diri sejatinya merupakan salah satu naluri manusia. Umumnya, kita ingin dikenal sebagai orang baik. Tidak ada yang ingin dikenal sebagai orang jahat. Akan tetapi, keinginan dianggap sebagai orang baik itu sekarang bisa dikemas dan dipoles, sehingga orang yang tidak baik pun bisa turut menampilkan citra sebagai orang baik.

Bacaan Lainnya

Puasa, salah satunya, melatih diri untuk kembali pada sisi kemanusiaan kita: dikenal baik karena berbuat baik, bukan karena seolah-olah baik. Agama mengenal istilah riya’, yaitu mereka yang beribadah karena hendak pamer diri, bukan karena lilahi ta’ala (untuk menghamba semata pada-Nya). Kesalehan yang dipoles di ruang publik, meskipun membuat pahala amal ibadah menjadi sia-sia, namun di mata khalayak atau konstituen bisa menjadi sangat bernilai, dan pada gilirannya dapat mendatangkan keuntungan duniawi.

Koruptor yang bersedekah mendirikan rumah ibadah, atau naik haji berkali-kali, dengan menggunakan sejumput uang hasil korupsinya, boleh jadi berhasil memoles citra dirinya sebagai orang alim. Begitu juga mereka yang menjelang kampanye politik mendadak rajin ke pesantren dan mengenakan pakaian ala santri untk mengelola kesan peduli urusan umat di mata pemilih tradisional.

Pencitraan ini semakin massif dilakukan melalui berbagai platform media sosial bahkan dengan menggerakkan buzzer masing-masing. Secara marketing politik, sesuai saran para konsultannya, tentu cara-cara seperti ini dianggap lumrah dan sah, meski, sekali lagi, nilai ibadahnya menjadi sia-sia. Dalam konteks ini, puasa Ramadan menjadi ibadah yang unik. Ini adalah ibadah diam, pasif, dan sunyi. Tak bisa dipoles biar Anda seolah terlihat paling lemas dan paling merasakan lapar. Tak bisa dikemas agar Anda terkesan sebagai orang yang paling lama berpuasa karena semua orang mengawali dan mengakhiri puasa dalam periode waktu yang sama. Tak bisa pula dilakukan brand image seolah Anda yang paling mengerti agama karena ibadah puasa amat simpel: cukup diawali dengan niat dan kemudian menahan diri dari makan-minum-seks, tanpa harus menggunakan atribut tertentu–sesederhana itu.

Ini berbeda dengan ibadah shalat yang bisa berlama-lama di depan publik, namun cepat-cepat dikerjakan saat sendirian. Berbeda pula dengan ibadah zakat yang bisa ketahuan Anda membayar sekian banyak dan umat diminta mengantre untuk mengambil pemberian zakat Anda. Atau seperti ibadah haji yang bisa dilakukan berkali-kali di saat kebanyakan rakyat harus lama menunggu masuk quota keberangkatan. Anda tak bisa melakukan pencitraan di saat melakukan ibadah puasa.

Dengan kata lain, puasa benar-benar ibadah untuk Tuhan, persis seperti yang disebut dalam hadits qudsi. Puasa Ramadan membuat semua terlihat sama. Tak ada kesan yang bisa dikelola, dan pesan yang direkayasa. Justru muatan sosial puasa membuat kita menengok jauh ke dalam sisi kemanusiaan kita: merasakan penderitaan fakir miskin yang dipaksa berpuasa sepanjang tahun akibat ketimpangan sosial yang ada.

Alih-alih melakukan berbagai gimmick politik, puasa di bulan suci Ramadan mengikis segala kosmetik pencitraan diri kita. Kita semua sama. Sama-sama lapar dan dahaga. Pada titik ini, semoga bulan Ramadan mampu mengubah kebiasaan pencitraan diri dengan cara menumbuhkan kesadaran akan amanat penderitaan rakyat (Ampera). Berpuasalah bersama rakyat agar memahami nestapa mereka, lebih-lebih di saat harga bahan pokok meroket saat ini. Mudah untuk dituliskan, tapi butuh komitmen serius untuk melakukannya, bukan?

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *