Patung Bung Karno Diusulkan Dibangun di Tugu Malang, Bagaimana Hukum Islam?

dok. islampos.com

Oleh: Malik Handika

Pemerintah Kota Malang membahas usulan pembangunan patung Bung Karno di Alun-Alun Tugu Malang. Hal ini diusulkan oleh Ketua DPRD Kota Malang, I Made Riandiana Kartika sebagai alat edukasi masyrakat. Sebab, Bung Karno saat berada di Kota Malang yang meresmikan Alun-Alun Tugu Malang pada 20 Mei 1953.
Namun dalam pandangan Islam Bagaimana hukum membangun patung manusia untuk ikon kota tersebut?
Patung yang disembah disebut ashnam, berhala. Sedangkan selain untuk keperluan sesembahan disebut tamatsil, التّماثيل, kita namai patung saja.

Bacaan Lainnya


{ولسليمان الريح غدوها شهر ورواحها شهر وأسلنا له عين القطر ومن الجن من يعمل بين يديه بإذن ربه ومن يزغ منهم عن أمرنا نذقه من عذاب السعير* يعملون له ما يشاء من محاريب وتماثيل وجِفانٍ كالجَوابِ وقُدورٍ راسيات اعملوا آل داودَ شكرًا وقليلٌ من عبادي الشكور} (سبأ:12-13)

Dalam ayat tersebut patung-patung yang menghiasi Istana Nabi Sulaiman disebut التّماثيل (Patung).
Jika patung dilarang karena ini persoalan akidah, tauhid maka kenapa Allah menoleransi patung-patung di istana Sulaiman As? Bukankah akidah termasuk yang tidak berubah sejak Nabi-Nabi terdahulu? Sebagaimana dijelaskan dalam ayat.


. {شرع لكم من الدّين ما وصّى به نوحاً والذي أوحينا إليك، وما وصّينا به إبراهيم وموسى وعيسى، أن أقيموا الدّين ولا تفرّقوا فيه…} (الشّورى:13).


Dikutip dari pesantren.id Ternyata larangan dalam hadis-hadis diatas bukan soal objek, melainkan subjek. Yaitu karena banyak penyembah berhala yang baru masuk Islam. Sebagai kehati-hatian mereka melarang semua bentuk gambar ditempatkan diposisi terhormat karena khawatir sebagian umat yang belum kuat kembali menyembah berhala.
Senada dengan itu, K.H Marzuki Mustamar ketua Tanfidziyah PWNU Jawa Timur juga pernah mengkaji terkait hukum Membuat Patung
Menurutnya, memang betul dalam hadist shoheh Bukhori ada sebuah larangan dalam membuat patung:


عن عبد الله بن عمر رضي الله عنهما أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال : إن الذين يصنعون هذه الصور يعذبون يوم القيامة يقال لهم أحيوا ما خلقتم . رواه البخاري ( 5607 ) ومسلم ( 2108 ) .


“Orang-orang yang membuat gambar ini akan disiksa oleh Allah kelak pada hari kiamat dan mereka diperintah untuk menghidupkan apa yang mereka gambar”. (Hadis Bukhari).


Namun, beliau menghendaki jika patung tersebut tidak untuk disembah atau untuk pemujaan, tidak masalah. Apalagi tujuan besarnya adalah untuk edukasi atau Pendidikan masyarakat tentang sejarah.
Misalnya bisa dilihat dalam hadis Ikrimah berikut.


قال عكرمة: «كانوا يكرهون ما نُصِبَ من التماثيل نصباً، ولا يرون بأسا بما وطئته الأقدا». وعكرمة ينقل هنا عن الصحابة.

Para Sahabat tidak senang ada patung atau gambar terpasang (di dinding), tidak masalah jika gambar pada posisi yang terinjak (seperti karpet).
Muhammad bin Sirin juga menguatkan keterangan Ikrimah di atas.


وقال محمد بن سيرين: «كانوا لا يرون ما وُطِئَ وبُسِطَ من التصاوير مثل الذي نُصِبَ».

Klaim An-Nawawi yang meriwayatkan ijma (konsensus) haram membuat patung 3 dimensi (memiliki bayang-bayang) diberi catatan oleh Ibn Hajar dalam Fath Bari.


قال النّووي في شرح مسلم (14|82): «وأجمعوا على منع ما كان له ظلّ ووجوب تغييره». لكن ابن حجر استدرك في الفتح (10|388): «إن هذا الإجماع محلّه غير لعب الأطفال».


“Ijma yang diriwayatkan an-Nawawi selain patung (boneka) untuk mainan anak-anak”.
Diriwayatkan Rasulullah saw menggunakan ‘bantal’ yang terdapat gambar makhluk hidup. Dan sebagaimana diriwayatkan Sayidah A’isyah bahwa Rasulullah mengijinkan penggunaan patung (boneka) untuk mainan anak-anak. Berikut keterangannya.


وثبت أنّ رسول الله (r) استعمل وسائد ومرافق فيها صور، ولكنّه كان ينقض التّصاليب ويزيلها. كما ثبت عنه إباحة لعب الأطفال- وهي تماثيل صغيرة- كما روت أم المؤمنين عائشة رضي الله عنها.

Bahkan ulama besar madzhab Syafi’i, al-Qadhi Iyadh meriwayatkan mayoritas ulama memperbolehkan memperjual belikan boneka (patung) untuk mainan dan pendidikan anak-anak.


وقد نقل القاضي عيّاض عن جمهور الفقهاء أنّهم أجازوا بيع هذه اللعب لتدريب البنات على إدارة شؤون الأطفال، وهذا من الأغراض المعتبرة شرعاً.

Kenapa gambar dan patung dalam keterangan itu ditoleransi? Karena jauh dari kemungkinan disembah. Mungkin seseorang menyembah gambar di karpet? Mungkin anak kecil menyembah boneka? Tidak.


فالصحيح أن ألعاب الأطفال جائزة للذكور والإناث بغير كراهة، لأنها بعيدة عن مظنة التعظيم. وكان أحد مشايخنا يقول: إن عقول الأطفال أكبر من عقول كثير من الكبار، ذلك أنك لا تجد أبداً طفلاً يعبد الدمية التي يلعب بها.

Nah kita tidak pernah menemukan umat Islam menyambah patung, jika ada mereka belum terdidik tauhidnya. Maka bukan mengharamkan dan menghancurkan patung tapi membenahi tauhid seperti yang dilakukan kiai-kiai kami.
Sejak kecil kiai kami tidak pernah membahas syirik dan bid’ah tapi membekali dengan metode mendeteksi kesyirikan melalui pengajaran tauhid yang benar. Akidah khomsin, akidah 50. Akidah uluhiyah, rububiyah yang diwarisi dari ahli hadis sudah kadaluarsa, expired. Dan terbukti memakan korban dan kerusakan di berbagai negara.
Coba Kita saksikan bagaimana al-Baghdadi menggambarkan keindahan warisan budaya dan agama yang dilestarikan oleh para sahabat dan Ulama.


(ص102): «وأما الأصنام وكثرة عددها وعظم صورها، فأمر يفوت الوصف ويتجاوز التقدير. وأما إتقان أشكالها وإحكام هيئاتها والمحاكاة بها الأمور الطبيعية، فموضع تعجب بالحقيقة»

Sayidina Saad bin Abi Waqash dan ribuan sahabat lainnya, demikian juga para ulama dari generasi kegenerasi melestarikan peninggalan umat dan bangsa sebelumnya.
Karena mereka paham keimanan itu di didik melalui pengajaran kedalam hati dan pikiran, menjauhkan umat dari kemusyrikan itu dengan ngaji bukan menghancur dan meluluh lantahkan peninggalan peradaban umat sebelum kita.
Wallahua’lam.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.