NU dan Perempuan

NU dan Perempuan

Oleh: Manuel Keisiepo

Kepengurusan baru PBNU 2022-2027 dibawah Ketua Umum KH Yahya Chlolil Staquf (Gus Yahya) sudah terbentuk. Ada yang baru dan menggembirakan. Sepakat dengan Mbak Lies Marcoes , “para ahli sejarah harus mencatat dan merevisi tesisnya tentang NU. Sekarang perempuan ada di jajaran Suriah dan Tanfidziyah!”

Bacaan Lainnya

Dulu semua orang memahami NU sebagai organisasi keagamaan “tradisional” yang didikotomikan dengan yang “modern”, sebagaimana pernah dilakukan dalam studi Prof. Mitsuo Nakamura pada awal 1970.
Nakamura melihat NU saat itu sebagai organisasi keagamaan yang bercorak tradisional di pedesaan dengan kaum intelektual terbatas.

Tetapi tak butuh waktu lama bagi Nakamura untuk merevisi sendiri tesisnya itu. Perkembangan akhir 1970an-1980an dan terutama kehadiran sosok Gus Dur (KH Abdurahman Wahid) yang kemudian terpilih sebagai Ketua Umum PBNU di Muktamar Situbondo 1984, telah membuat dikotomi tradisional-modern menjadi tidak valid. Nakamura mengakui tesisnya itu sudah tidak relevan lagi, NU sudah berubah secara luar biasa…..

Kini di bawah Gus Yahya, terjadi lagi suatu perubahan luar biasa bahkan terobosan hebat, dengan kehadiran 11 tokoh perempuan dalam struktur PBNU 2022-2027.

Para ahli sejarah harus mencatat dan merevisi tesisnya ttng NU. Sekarang perempuan ada di jajaran Suriyah dan Tanfidziyah! Daaan lihat dong kerudungnya Islam Indonesia banget deh Islam yang berinkulturasi dengan Budaya Nusantara yang terbuka, di udara tropis, penuh warna dan aktif di luar rumah.

Terima kasih Bung Manuel Kaisiepo ! Indonesia mengukir sejarah baru tentang NU yang telah mencatatatkan. Perempuan di jajaran Tanfidziyah. Kalau di Suriyah memang bukan hal baru. Tp juga cukup dimengerti mengingat perannya memberi arahan moril sehingga secara gender bukan hal yang tabu perempuan ada didalamnya. Namun untuk pengurus Tanfidz yang dianggap jabatan politik maskulin itu jelas suatu lompatan besar. Bagaimanapun ada isu gender dalam organisasi yang memiliki ” sayap” perempuan seperti Muhammadiyah dan NU. Perempuan selama ini ditempatkan di Ba-Nom khusus perempuan seperti Muslimat dan Fatayat. Jadi ketika perempuan sekarang mendapat posisi di organisasi induknya yang dianggap domain organisasi kaum lelaki jelas itu sebuah gebrakan dan dobrakan! Hebat NU.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.