Nasab Ilmu KH Muhammad Ali Manshur

Oleh: Gus Noor Shodiq

Abdul Adzim Irsad

Bacaan Lainnya

KH Muhamamd Ali Manshur keluargaadalah besar dari KH KH Muhammad Siddiq. Sebagian besar dari keluarga besar KH Muhamamd Siddiq di makamkan di pemakanan umum Condro-Jember, termasuk Mbah Muhammad Siddiq punjer waliyullah di Jember, KH Manshur. Sebagian lagi di makamkan di pemakaman masjid Jamik Pasuruan, seperti; KH Ahmad Qusairi, dan KH Abdul Hamid. Sementara, KH Ahmad Siddiq dimakamkan bersama KH Hamim Jazuli (Gus Mik) di Kediri.

KH Muhammad Siddiq, termasuk pendiri dan perintis berdirinya NU, walaupun nama beliau tidak tercatat. Setidaknya, KH Muhammad Siddiq memberikan kontribusi besar terhadap NU. Hampir semua putra-putrinya, termasuk pejuang NU, baik dalam urusan politik, jamiyah, bahkan pendidikan dan social di masyarakat.

Di antara putra-putrinya adalah KH Abdul Hamid Wijaya Siddiq (Mantan Katib Amm NU). KH Mahfuz Siddiq (Mantan Rais Amm NU), KH Ahmad Siddiq (Mantan Rais Amm NU), KH Ahmad Qusairi Siddiq, KH Abdullah Siddiq, KH Abdul Halim Siddiq. Ada-pun cucu dari KH Muhammad Siddiq yang menonjol adalah KH Abdul Hamid Ibn Abdullah bin Umar sang kekasih Allah SWT, dan KH Muhammad Ali Manshur sang pengubah Shalawat Badar.

KH Ali Manshur belajar kepada ayahnya sendiri yaitu KH Manshur, dimana KH Manshur sejak kecil, beliau memiliki nama Masrur. Sang ayah, yaitu KH Muhammad Siddiq mengajari beragam ilmu kepada Masrur, seperti Alquran. Sedangkan beragam disiplin ilmu lainnya, seperti; Jurumiyah, Sifinah, Sullam Safinah, Tajwid, serta ketib-kitab lainnya dipelajari di bawah bimbingan langsung ayahandanya hingga hafal. Ciri khas dari Masrur adalah, taat kepada kedua orangtua, rajin puasa dan tirakat.

Guru-guru dari KH Masrur Siddiq adalah, KH Suyuthi, KH Shalih Tuban, KH Shalih Darat. Bersama dengan KH Ahmad Qusairi, Masrur berangkat ke Makkah untuk menunaikan ibadah haji dan belalajar kepada ulama Makkah di sana. Sejak saat itulah, nama Masrur menjadi Manshur. Orang lebih mengenal nama KH Manshur Siddiq, dari pada nama kecilnya “Masrur”.

Sepulang dari Ngaji di Makkah di bawah bimbingan ulama Makkah, KH Manshur menikah Aminah. Namun tidak memiliki keturunan. Kemudian, beliau menikah lagi dengan Shafiyah binti KH Basyar -Tuban yang terkenal sebagai waliyullah. Dengan Nyai Shafiyyah melahirkan keturunan, yaitu Fannah Zulaikha (wafat sejak kecil), Rahmah (meninggal sejak kecil), dan KH Ali Manshur, yang nama kecilnya adalah “Ali Erkham”.

KH M. Ali Mansur Siddiq menghabiskan masa kecilnya di Tuban, belajar kepada tokoh ulama di Kampungnya. Selanjutnya, beliau belajar di beberapa Pesantren ternama di Jawa Timur, seperti; Pesantren Termas Pacitan, yang di pimpin langsung oleh KH Dimyathi, beliau termasuk Ulama Nusantara di Makkah. Kemudian Pesantren Lasem yang diasuh langsung oleh Mbah Makshum, lalu Pondok Pesantren Lirboyo Kediri, dan Pesantren Tebuireng Jombang.

KH Dimyati, KH Makhum, KH Karim, KH Hasyim Asaary adalah Ulama Aswaja yang sanad ilmunya nyambung (muttasil) dengan Syekh Mahfzud Al-Turmusi, Sayyid Bakri Shata, Sayyid Zaini Dahlan, Syekh Utsman bin Hasan Ad-Dimyathi (W. 1265 H). Mereka adalah Ulama besar di Al-Haramaian yang akidahnya Asaariyah dan Madzhab Fikihnya adalah Imam Al-Syafii.

Selama di Lirboyo, KH Muhammad Ali Manshur Siddiq bernar-benar Nampak bakatnya, beliau menguasai ilmu ‘arudh dan qowafi (dasar-dasar ilmu membuat syair berbahasa arab). Itu semua tidak lepas dari bimbingan ruhani dari guru-gurunya yang merupakan kekasih Allah SWT, juga nasabnya beliau nyambung dengan Rasulullah SAW. Sangat wajar, jika kemudian shalawat Badar yang di tulisnya mendunia.

Malang, 08/01/2022
Noor Shodiq FE Unisma

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.