Muhammad Al-Fatih, Raja Muda, Teladan Bagi Pemimpin Melenial

Oleh: Hosnor Rofiq

Sultan Muhammad al-Fatih adalah bukti kebenaran sabda Rosulullah Saw. Dia adalah sosok pemimpin muda Islam yang berhasil menaklukan kota Konstantinopel. Muhammad Al Fatih lahir dengan nama asli Mehmed bin Murad. Ia lahir pada tanggal 30 Maret 1432 di Edirne, ibu kota Turki Utsmaniyah. Ayahnya bernama Sultan Murad II yang merupakan sultan Turki Utsmaniyah. Sultan Mehmed dikenal oleh dunia dengan nama julukannya yaitu Muhammad Al-fatih yang berarti “penakluk” julukan ini diberikan kepadanya karena beliau telah berhasil menaklukan/membuka kota Konstantinopel yang selama 1.123 tahun kota ini tidak bisa dibuka/ditaklukan oleh pemimpin-pemimpin islam terdahulu.

Bacaan Lainnya

Rosulullah SAW. Pernah bersabda:

“Sesungguhnya akan dibuka Kota Konstantinopel, sebaik-baik pemimpin adalah yang memimpin saat itu, dan sebaik-baik pasukan adalah pasukan perang saat itu.” (HR. Imam Ahmad 4/235, Bukhori 139).

Konstantinopel merupakan ibukota kekaisaran Romawi Timur yang terletak di Semenanjung Bosporus, antara Balkan dan Anatolia serta penghubung Laut Hitam dan Laut Tengah melalui Selat Dardanela dan Laut Aegea. Kota ini menghubungkan dua benua besar, Eropa dan Asia. Letaknya yang strategis menyebabkan bangsa-bangsa tertarik untuk menguasainya, termasuk umat Islam. Kota ini sekarang di kenal dengan nama Instanbul yang terletak di negara Turki. Konstantinopel berubah nama menjadi kota Instanbul sejak negara Turki menjadi negara republik.

Pada usia 12 tahun, sultan Muhammad Al Fatih sempat naik tahta menggantikan ayahnya, Sultan Murad II. Namun karena serangan dari bangsa Honggaria kala itu membuat ayahnya Sultan Murad II kembali mengambil alih tahta dan memimpin pasukan turki memadamkan perlawanan Bangsa Honggaria kala itu. Setelah kematian ayahnya pada tahun 1451, sultan Muhammad Al-Fatih kembali naik tahta menggantikan ayahnya. Pada saat naik tahta yang kedua kali nya Ia berusia 21 tahun.

Sejak kecil, Sultan Muhammad Al-Fatih telah mencermati usaha ayahnya untuk menaklukkan Kostantinopel. Beliau juga mengkaji usaha-usaha yang pernah dibuat sepanjang sejarah Islam ke arah itu, sehingga menimbulkan keinginan yang kuat baginya meneruskan cita-cita umat Islam menaklukan Konstantinopel. Ketika beliau naik tahta pada tahun 855 H/1451 M, beliau mulai berpikir dan menyusun strategi untuk melawan kekaisaran Romawi. Dan beliau segera menemui Syeikh Semsettin untuk menyiapkan bala tentara untuk penaklukan Konstantinopel. Persiapan pun dilakukan. Sultan berhasil menghimpun sebanyak 250 ribu tentara.

Penaklukan Konstantinopel di mulai 6 April 1453 dengan pasukan Utsmani yang berjumlah 150.000 tentara. Setelah melewati perjuangan yang sangat luar biasa, pasukan Utsmani yang kala itu dipimpin oleh Sultan Muhammad Al-Fatih mengepung Konstantinopel selama 49 hari dan pada hari ke 50 akhirnya Konstantinopel bisa di taklukan/di buka pada 29 Mei 1453. Salah satu kunci besar kesuksesan penaklukan konstantinopel adalah ketakwaan dari Sultan Muhammad Al-Fatih beserta bela tentaranya. Beliau dan pasukannya tidak pernah meninggalkan sholat farduh, sholat tahajud di malam hari dan berpusa di siang harinya.

Sultan Mhuhammad Al-Fatih merupakan pengaruh dan kunci besar dalam penaklukan Kontsantinopel. Namun, di balik kesuksesan beliau memimpin bangsa Utsmani kala itu tidak luput juga dari didikan ayahnya yang juga merupakan pemimpin Ustmani sebelum beliau memimpin, ayah beliau, Sultan Murad II mendidiknya dengan mendatangkan guru-guru dan ulama ternama untuk mendidiknya sejak kecil. Salah satu guru yang berhasil mendidik Sultan Muhammad Al-Fatih adalah Syeikh Aaq Syamsuddin yang beliau merupakan Keturunan dari Khalifah pertama Abu Bakar Ash-Siddiq. Beliau ahli di bidang ilmu-ilmu mendasar Al-Qur’an, As-sunnah, fikih, matematika, astronomi, sejarah dan seni berperang. Beliau juga menguasai berbagai bahasa seperti bahasa Arab, Persia dan Turki.

 Syeikh inilah yang juga merupakan kunci besar penaklukan Konstantinopel, karena dengan doktrin dan pemikiran beliaulah Muhammad Al-Fatih menyerang Konstantinopel. Beliau adalah otak dan dalang atau bara pemantik adanya kobaran api besar di kota konstantinopel. Terdapat beberapa teladan dari Sultan Muhammad Al-Fatih, pemimpin bangsa Utsmani yang berhasil mengalahkan bangsa Romawi dan berhasil membuka gerbang konstantinopel ini, yaitu:

pertama, beliau adalah pemimpin yang pintar dan cerdas. Sejak kecil Muhammad Al-Fatih memiliki pendidikan yang sangat baik, beliau di didik langsung oleh guru-guru dan ulama hebat, sejak kecil dia bisa mengungguli teman-teman sebaya nya dalam berbagai hal. Beliau menguasi ilmu-ilmu seperti seperti kemiliteran,al-Quran, hadits, fikih, ilmu falak, perhitungan, serta sejarah, baik secara teori maupun praktis. Dan beliau juga menguasai 6 bahasa yakni, bahasa Arab, Turki, Persia, latin, yunani dan Ibrani. serta beliau juga mempelajari dan menguasai sejarahh, kegagalan pemimpin-pemimpin sebelumnya dan menemukan ide-ide baru untuk menembus Konstantinopel.

 kedua, beliau adalah pemimpin yang berani. Muhammad Al-Fatih dikenal sebagai pemimpin yang terjun sendiri ke medan laga saat perang. Beliau tak gentar memimpin pasukannya untuk melawan musuh dengan pedangnya sendiri. Beliau juga berani memberhentikan para mentri yang berkhianat terhapap pasukannya dan beliau juga berani mengambil segala resiko atas cara-cara baru yang tidak pernah dilakukan oleh pendahulunya. Pendahulu-pendahulu beliah menyebrangkan kapal dan meriam-meriam pasukannya lewat laut, namun berbeda dengan pasukan Ustmani yang di pimpin oleh Muhammad Al-Fatih, pasukan Utsmani kala itu menyebrangkan kapal-kapal dan meriam-meriam yang sangat banyak dan besar melewati daratan dan pegungungan hanya dengan waktu semalam.

Ketiga, beliau adalah pemimpin yang toleran. Ketika sultan dan pasuka Utsmani bisa menembus gerbang konstantinopel seluruh rakyat di kota Konstantinopel yang notabenya adalah non muslin, mereka merasa sangat ketakutan karena khawatir bangsa Utsmani pasukan Muhammad Al-Fatih membunuh dan menyiksa mereka. Namun sangat mengejutkan, ternyata ketika sultan dan pasukannya masuk ke kota Konstantinopel kedalam gereja Hagia Shopia (aya sophia) beliau memperlihatkan toleransi yang sangat luar biasa, beliau berkata kepada bangsa Romawi bahwa sanya beliau tidak akan menyiksa dan membunuh mereka, beliau mempersilahkan dan mengizinkan bangsa Romawi untuk tetap tinggal di Kota Konstantinopel dan di jamin keamanannya, serta memperbolehkan bangsa Romawi untuk tetap menyembah sesuai keyakinan, tetapi Sultan meminta agar Gereja Hagia Sophia di ganti menjadi masjid.

Dan yang terakhir, beliau adalah pemimpin yang takwa. Ketakwaan beliau tidak perlu diragukan lagi karena sejak kecil beliau telah di didik ilmu agama oleh ulama-ulama ternama yang salah satunya adalah keturunan dari Khalifah Abu Bakar Ash-Siddiq, dari merekalah beliau belajar bahwa kemenangan dan kesuksesan datangnya dari Allah. Ketakwaan dari beliau di mulai dari diri sendiri, dari hal tersebut beliau bisa menjadi contoh dari pasukan dan bela tentaranya. Beliau menyuarakan kepada pasukan dan bela tentaranya bahwa kemenangan hanya ada di tangan Allah. Dari ke takwaan beliau dan bela tentaranya tersebut Allah memberikan jalan untuk membuka kota Konstantinopel.

Hosnor Rofiq

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *