MOOC: Ngaji Kitab Kuning dengan Kiai NU

Oleh: Moh. Ahsan Shohifur Rizal

MOOC merupakan singkatan dari Massive Open Online Course. Yaitu sisntem pembelajaran yang berupa kursus. Artinya program ini terbuka bagi siapa saja, dimana saja dan bisa diikuti oleh banyak orang. Melalui teknologi internet, memungkingkan sebuah kelas online bisa dihadiri ribuan orang dari lokasi yang berbeda dengan waktu yang sama. Dalam konteks ini adalah bagi kader NU yang belum mengenyam pendidikan di Pesantren.

Bacaan Lainnya

MOOC secara masif sudah bergulir lama di dunia barat, bahkan di indonesia – telah membuka layanan ini. Banyak platform yang menyediakan layanan belajar gratis dan bagi peserta akan mendapatkan semacam sertifikat atau penghargaan setelah selesai melakukan pembelajaran dalam layanan tersebut. Belajar kapan saja, dimana saja, dengan siapa saja hari ini bisa dilakukan oleh siapapun. Bahkan dengan pakar berkelas dunia terlebih kita dapat mengakses layanan MOOC dari kampus bergengsi dunia. Layanan MOOC yang disediakan cukup banyak bahkan jumlahnya jutaan kursusn, kita dapat mengaksesnya dengan menggunakan gawai dari rumah. Sungguh kita dimanjakan layanan MOOC ini, yang nantinya dapat kita manfaatkan untuk meningkatkan kapabilitas dan pengembangan pengetahuan. Jelajah diluar negeri, belajar tanpa harus ke luar negeri, rumah atau tempat tinggal boleh di Malang tetapi pengetahuan eropa minded, america mended dan serbaneka pengetahuan bisa kita akses kapanpun dimananpun.

Dari pengalaman penulis yang hampir mengikuti berbagai kursus malalui platform MOOC ini hampir di 10 negara di dunia secara gratis dan mendapatkan achivemen semacam sertifikat setelah mengikuti MOOC. Ini yang membuat ide penulis sehingga menulis artikel ini.

MOOC mungkin perlu digulirkan juga dilembaga-lembaga NU. tujuanya adalah untuk menyediakan pembelajaran atau sumber keNUan kepada masyarakat luas. Yang dapat diakses kapanpun, dimanapun dengan tetap diasuh oleh Kiai NU. Pembelajaran keNUan ini, dibuat semacam kursus dengan model gamifikasi. Sehingga materi keNUan akan dipelajari oleh masyarakat luas sesuai dengan konten  yang disajikan. Baik sejarah, aqidah, fiqih, amaliah dan banyak hal lainya. NU, merupakan rumah “post literat” artinya kapanpun NU akan menjadi rujukan masyarakat luas. Terbukti konsep-konsep yang diberikan oleh NU telah mampu mencerahkan dan menyejukan.

Kiai NU adalah sumber terbesar sebagai Open Educational Recourse (oer) maupun Open Eductioan (or) yang patut kita dokumentasikan dengan berbagai layanan digital yang ada. Materi-materi yang disajikan oleh kiai NU sangat konprehensif. Bahkan tidak sulit kita jumpai Kiai NU yang mengaji ful Kitab, mulai awal hingga hatam. Sajian yang seperti ini dibuat konten materi yang menari dijadikan semacam silabus atau urutan bab hingga tagihan pemahaman kitab yang dikaji oleh Kiai. Sehingga ketika ada orang yang seiur mengaji secara MOOC ada parameter yang jelas dalam memahami kajian kitab tertentu. Tentu, MOOC ini direncanankan dengan konteks tertentu dengan tujuan tertentu. Misalnya kaderisasi atau layanan ngaji dengan kiai dengan mendaptkan achivemen dari Kiai atau Lembaga penyelenggara MOOC.

Namun, perlu diperhatikan. Jika seseorang telah hatam dan menyelesaikan ngjaji dengan Kiai melalui platform MOOC ini, nantinya mereka yang telah mendapatkan sertifikat atau sejenisnya mereka diwajibkan sowan dan meminta ijazah atau izin agar apa yang dipelajari nantinya mendapatkan ridlo dari seroang Kiai sebagai pengajarnya. Atau di dalam sistem MOOC diberikan panduan lain yang intinya setelah seseorang telah selesai melakukan “ngaji” mereka telah mendapatkan izin dari Kiai ataupun bentuk lain seperti syahadah.

Konsep MOOC ngaji kitab kuning dengan Kiai NU ini, mungkin perlu dikaji dan direncanakan dengan baik, karena harus memperhatikan nilai-nilai kepesantrenan, budaya pesantren dan lainya. Mengingat dakwah digital di NU perlu dimasifkan dan dikemas dengan berbagai layanan agar nantinya dapat diakses oleh santri maupun masyarakat luas kapnpun dan dimanapun. Masyarakat atau kader-kader NU Yang belum bisa mengeyam pendidikan dipesantren nantinya bisa memanfaatkan layanan ini. Mengingat, kader NU yang belum dipesantren juga banyak, mungkin MOOC ini, menjadi bagian piranti untuk menyampaikan materi keNUan yang termaktub dalam kitab kuning.

Semoga, artikel yang bertajuk Massive Open Online Course (MOOC) Ngaji Kitab Kuning dengan Kiai NU ini dapat meberikan pencerahan bagi kita semua.

Moh. Ahsan Shohifur Rizal  (Sekretaris PC LTNNU Kab. Malang)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.