Menjaga Hidup (Diri) di Zaman ini

Seberapa besar dirimu menjaga Al-Qur’an, sebesar itu pula hidupmu akan dijaga oleh Al- Quran

K.H. Muhammad Chusaini Al Hafidz

Bacaan Lainnya

Dalam hal ini, sejatinya Al-Qur’an bisa menjadi tameng bagi manusia. Sampai kapanpun, syafaat Al-Qur’an menjadi harapan yang besar, terkhusus untuk kehidupan abadi akhirat kelak. Sudah selayaknya kedekatan pada alquran menjadi sesuatu yang primer guna merawat hidup yang sering dibayang-bayangi oleh ancaman dunia yang menyesatkan. Tanda kutip tidak menafikan jika dunia menjadi bahan pengabdian kepada Allah dan mencari ridho Allah.

Dari sini kita perlu memperbanyak mengingat pengetahuan yang kita peroleh sejak kecil. Singkatnya bahwa Al-Qur’an menjadi pedoman. Sebagai perancang arah gerak dalam menjalani hidup yang lebih beruntung, bahkan Al-Qur’an mampu menjadi syafaat di akhirat kelak.

Nampak, tak sedikit orang yang dalam tindakannya melenceng daripada Al-Qur’an, dan kita bisa lihat, banyak kaum pemuda yang memilih terlena dengan teknologi buatan manusia dari pada mukjizat yang diturunkan kepada nabi Muhammad saw., yaitu Al-Qur’an hingga mampu merubah karakter (westernisasi) yang lebih mengancam kehidupan di dunia bahkan akhirat.

Pendidikan pesantren menjadi sangat penting dalam merubah karakter, moral, serta pengendalian diri di zaman ini. Karena yang terjadi hari ini, ancaman besar teknologi sudah menjalar ke penjuru bangsa Indonesia. Tuntutan zaman yang lebih mementingkan pendidikan umum daripada pendidikan agama yang berlandas Al-Qur’an sudah menjadikannya rabun untuk memilih mana yang lebih baik. Sejak saat itu, maka banyak mencetuskan kepribadian yang serakah dan tidak terkendalikan.    

Sejatinya, Islam banyak mengajarkan tentang konsep untuk menjadi manusia yang ideal. Bahkan saat menjadi pemimpin. Dalam hal ini akan selesai sebuah permasalahan karena berpedoman pada ajaran agama. Hingga menciptakan solusi yang bijak.

Di pesantren khususnya, pengendalian diri yang lahir dari hati, demikian adanya melalui olahraga batin yang sering diasah melalui tradisi-tradisi di pesantren, misalnya berdzikir, solidaritas antar teman dan bentuk takdzim kepada kiai. Tanpa disadari, bahwa mampu menciptakan karakter yang tidak serakah dan bisa terkendali.

Kehidupan manusia yang lebih baik tentu menjadi harapan kedepan, terutama terlindung dari sesuatu yang menjurus pada tindakan yang salah, hingga berdampak pada keselamatannya di dunia dan di akhirat.

Dengan demikian, menjadi penting untuk menjaga diri di zaman yang terlanjur keras ini. Hingga dapat kita simpulkan, bahwa Al-Qur’an adalah tameng.

Seberapa besar kamu menjaga Al-Qur’an, maka sebesar itu pula hidupmu dijaga oleh Al-Qur’an,” K.H. Muhammad Chusaini Al Hafidz. Dalam hal ini berpedoman pada ajaran Al-Qur’an. Beruntung dia yang menghafalkan Al-Qur’an, akhlak dan tindakannya sesuai dengan Al-Qur’an.

Kiai-kiai pesantren menjadi tauladan bagi santri-santrinya. lantaran apa yang dinasihatin oleh kiai sesuai dengan apa yang dilakukannya.

Terima kasih. Semoga tulisan ini bermanfaat. Jika terdapat kesalahan maka maafkanlah makhluk yang lemah ini.

Penulis: Sami’ Mulyaji

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.