Mengirim al-Fatihah untuk Nabi

Oleh: K.H. Ma’ruf khozin

Saya tidak sedang menjawab serangan kelompok Salafi, meskipun tema yang saya angkat ini juga sering dituduhkan bid’ah kepada kita. Jika ada Salafi ikut-ikutan nyerang di sini akan saya hapus.

Bacaan Lainnya

Saya menyaksikan sendiri rekaman kiai Mursyid bagi tarekat tertentu yang tidak disahkan oleh Jam’iyyah Thariqah An-Nahdliyah yang dipimpin oleh Maulana Habib Luthfi. Kiai tersebut tidak berkenan membaca al-Fatihah untuk Nabi. Andaikan tidak sependapat sudah cukup. Sayangnya beliau sambil menertawakan kelompok lain yang menghadiahkan bacaan al-Fatihah untuk Nabi shalallahu alaihi wa sallam.

Benarkah kita tidak pantas menghadiahkan bacaan al-Fatihah untuk Nabi? Para ulama Fikih Syafi’iyah membolehkan, sebab kemuliaan Nabi masih menerima tambahan pahala. Berikut Fatwa Imam Ramli yang dijuluki asy-Syafii ash-Shaghir (Syafi’i Junior):

(ﺳﺌﻞ) ﻋﻤﻦ ﻗﺮﺃ ﺷﻴﺌﺎ ﻣﻦ اﻟﻘﺮﺁﻥ ﻭﺃﻫﺪﻯ ﺛﻮاﺑﻪ ﻟﻠﻨﺒﻲ – ﺻﻠﻰ اﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ – ﻣﺜﻞ ﻭﺃﻭﺻﻞ ﺇﻟﻰ ﺣﻀﺮﺗﻪ ﺃﻭ ﺯﻳﺎﺩﺓ ﻓﻲ ﺷﺮﻓﻪ ﺃﻭ ﻣﻘﺪﻣﺎ ﺑﻴﻦ ﻳﺪﻳﻪ ﺃﻭ ﻏﻴﺮ ﺫﻟﻚ ﻛﻤﺎ ﺟﺮﺕ ﺑﻪ اﻟﻌﺎﺩﺓ ﻫﻞ ﺫﻟﻚ ﺟﺎﺋﺰ ﻣﻨﺪﻭﺏ ﻳﺆﺟﺮ ﻓﺎﻋﻠﻪ ﺃﻭ ﻻ ﻭﻣﻦ ﻣﻨﻊ ﺫﻟﻚ ﻣﺘﻤﺴﻜﺎ ﺑﺄﻧﻪ ﺃﻣﺮ ﻣﺨﺘﺮﻉ ﻟﻢ ﻳﺮﺩ ﺑﻪ ﺃﺛﺮ ﻭﻻ ﻳﻨﺒﻐﻲ ﺃﻥ ﻳﺠﺘﺮﺃ ﻋﻠﻰ ﻣﻘﺎﻣﻪ اﻟﺸﺮﻳﻒ ﺇﻻ ﺑﻤﺎ ﻭﺭﺩ ﻛﺎﻟﺼﻼﺓ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﺆاﻝ اﻟﻮﺳﻴﻠﺔ ﻫﻞ ﻫﻮ ﻣﺼﻴﺐ ﺃﻭ ﻻ؟

Ar-Ramli ditanya tentang seseorang yang membaca ayat Qur’an dan menjadikan pahalanya dihadiahkan kepada Nabi shalallahu alaihi wa sallam, seperti “Haturkan pahala ini kepada Nabi”, atau “Tambahan kemuliaan Nabi”, atau “Keharibaan Nabi”, sebagaimana sudah biasa dilakukan apakah boleh? Apakah pembacanya mendapatkan pahala atau tidak?

Sementara ulama yang melarang berpedoman pada bidah yang tidak ada riwayatnya. Tentu tidak boleh berani-beraninya melakukan sesuatu atas kemuliaan Nabi kecuali dengan cara yang ada dalilnya seperti Salawat dan Doa Wasilah. Apakah ini benar?

(ﻓﺄﺟﺎﺏ) ﻧﻌﻢ ﺫﻟﻚ ﺟﺎﺋﺰ ﺑﻞ ﻣﻨﺪﻭﺏ ﻗﻴﺎﺳﺎ ﻋﻠﻰ اﻟﺼﻼﺓ ﻋﻠﻴﻪ – ﺻﻠﻰ اﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ – ﻭﺳﺆاﻝ اﻟﻮﺳﻴﻠﺔ ﻭاﻟﻤﻘﺎﻡ اﻟﻤﺤﻤﻮﺩ ﻭﻧﺤﻮﻩ ﺫﻟﻚ ﺑﺠﺎﻣﻊ اﻟﺪﻋﺎء ﺑﺰﻳﺎﺩﺓ ﺗﻌﻈﻴﻤﻪ ﻭﻗﺪ ﺟﻮﺯﻩ ﺟﻤﺎﻋﺎﺕ ﻣﻦ اﻟﻤﺘﺄﺧﺮﻳﻦ ﻭﻋﻠﻴﻪ ﻋﻤﻞ اﻟﻨﺎﺱ ﻭﻣﺎ ﺭﺁﻩ اﻟﻤﺴﻠﻤﻮﻥ ﺣﺴﻦ ﻓﻬﻮ ﻋﻨﺪ اﻟﻠﻪ ﺣﺴﻦ ﻓﺎﻟﻤﺎﻧﻊ ﻣﻦ ﺫﻟﻚ ﻏﻴﺮ ﻣﺼﻴﺐ

Ar-Ramli menjawab: Ya boleh bahkan dianjurkan sebagai qiyas/analogi dengan Salawat, Doa Wasilah dan kedudukan terpuji dan lainnya. Dengan titik temu sebagai doa tambahan keagungan Nabi. Ini sudah diamalkan banyak ulama generasi akhir. Dan apa yang dianggap baik oleh umat Islam maka baik pula di sisi Allah. Ulama yang melarangnya tidak tepat (Fatawa Ar-Ramli, 3/125)

Jadi metode ijtihadnya menggunakan qiyas dan perlu ditegaskan bahwa dalam Mazhab Syafi’i metode ijtihad ini adalah dibolehkan.

• Video channel Kiai Zahro Wardi (Komisi Fatwa MUI Jatim)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *