Memilih Struktur Modal Terbaik untuk Penerapan Usaha

Oleh: Dr. Shohib Muslim, S.H., M.Hum

Pada umumnya, sebuah usaha akan lebih mudah berkembang jika didukung oleh modal yang cukup. Sumber modal bisa berasal dari modal sendiri, utang jangka panjang, atau utang jangka pendek. Untuk menggambarkan pembiayaan permanen pada perusahaan ini, ada istilah yang disebut struktur modal.

Bacaan Lainnya

Baik buruknya struktur modal akan berpengaruh secara langsung pada posisi keuangan sebuah perusahaan. Karena itu, pelaku usaha harus bisa menentukan langkah terbaik untuk perusahaannya. Ada setidaknya beberapa teori struktur modal yang dikenal saat ini. Nah, teori mana yang terbaik untuk penerapan usaha anda?

  1. Teori Modal Tradisional

Pendekatan tradisional berpendapat akan adanya struktur modal yang optimal. Artinya struktur modal mempunyai pengaruh terhadap nilai sebuah perusahaan, dimana struktur modal dapat berubah-ubah agar bisa diperoleh nilai perusahaan yang optimal.

  • Teori Pendekatan Modigliani dan Miller

Berdasar teori ini, struktur modal tidak berpengaruh terhadap perusahaan. Ada dua jenis struktur modal dalam teori ini, yaitu teori MM tanpa pajak dan teori MM dengan pajak.

  1. Teori MM tanpa pajak berpendapat bahwa struktur modal tidak relevan terhadap nilai perusahaan. Ada beberapa asumsi yang mendukung pernyataan tersebut, yaitu tidak ada agency cost, tidak ada pajak, investor dapat berutang dengan suku bunga yang sama dengan perusahaan, dan investor mendapatkan informasi seperti manajemen terkait masa depan perusahaan. Menurut teori ini pula, tidak ada biaya kebangkrutan dalam struktur modal, aset dapat dijual dengan market value jika terjadi kebangkrutan, Earning Before Interest and Taxes (EBIT) tidak dipengaruhi utang, dan investor adalah price-takers.
  2. Teori MM dengan pajak. Karena teori tanpa pajak dianggap tidak masuk akal, Franco Modigliani dan Merton Howard Miller, pencipta teori MM, memasukkan faktur pajak. Pajak yang dibayar kepada pemerintah adalah aliran kas keluar. Nah, utang dapat menghemat pajak karena bunga dapat digunakan menjadi pengurang pajak.
  • Teori Pecking Order

Teori Pecking Order menjelaskan mengapa perusahaan yang mempunyai tingkat keuntungan yang lebih tinggi justru mempunyai tingkat hutang yang lebih kecil. Spesifiknya, perusahaan memiliki urutan preferensi dalam hal menggunakan dana. Adapun skenario urutan tersebut adalah:

  1. Perusahaan memilih pandangan internal yang diperoleh dari laba hasil kegiatan perusahaan.
  2. Perusahaan menghitung target rasio pembayaran berdasarkan perkiraan kesempatan berinvestasi.
  3. Aliran kas yang diterima perusahaan akan lebih besar dibandingkan pengeluaran investasi pada saat tertentu karena kebijakan dividen yang konstan. Ini digabung dengan fluktuasi keuntungan dan kesempatan investasi yang tak bisa diperkirakan.
  4. Jika pandangan eksternal diperlukan, perusahaan mengeluarkan surat berharga berupa utang, kemudian obligasi konvertibel, dan terakhir adalah saham.

Tetapi, faktanya tidak semua perusahaan menggunakan dana seperti skenario urutan tersebut. Ada banyak yang menerbitkan ekuitas untuk berutang demi bisa membiayai perusahaan.

  • Teori Model trade off

Menurut teori Trade-Off, perusahaan akan berutang sampai pada tingkat tertentu. Penghematan pajak (tax shields)  dari tambahan utang akan sama dengan biaya kesulitan keuangan (financial distress). Di dalamnya ada biaya kebangkrutan (bankruptcy costs) atau reorganization dan biaya keagenan keagenan (agency costs) yang bertambah karena turunnya kredibilitas perusahaan.

Trade-offtheory dalam menentukan struktur modal yang optimal memasukkan beberapa faktor antara lain pajak, biaya keagenan (agency costs) dan biaya kesulitan keuangan (financial distress) tetapi tetap mempertahankan asumsi efisiensi pasar dan simetrik information sebagai imbangan dan manfaat penggunaan utang.

Financial distress adalah kondisi dimana perusahaan mengalami kesulitan keuangan dan terancam bangkrut. Jika perusahaan mengalami kebangkrutan, maka akan timbul biaya kebangkrutan yang disebabkan oleh: keterpaksaan menjual aktiva dibawah harga pasar, biaya likuidasi perusahaan, rusaknya aktiva tetap dimakan waktu sebelum terjual, dan sebagainya.

Agency costs atau biaya keagenan adalah biaya yang timbul karena perusahaan menggunakan hutang dan melibatkan hubungan antara pemilik perusahaan (pemegang saham) dan kreditor. Biaya keagenan ini muncul dari problem keagenan. Jika perusahaan menggunakan utang, ada kemungkinan pemilik perusahaan melakukan tindakan yang merugikan kreditor.

  • Teori Asimetri dan Signaling

Teori ini  menyatakan  bahwa pihak-pihak yang berhubungan dengan perusahaan tidak memiliki informasi yang sama tentang prospek maupun resiko bisnis.

Menurut Myers dan Majluf, ada asimetri informasi yang terjadi di antara manajer dan pihak luar. Manajer memiliki informasi yang lengkap. Dalam teori Signaling, manajer akan mengkomunikasikan informasi mengenai perusahaan apabila yakin prospeknya baik dan ingin saham meningkat. Manajer bisa menggunakan utang sebagai sinyal karena berutang dianggap dapat menunjukkan bahwa perusahaan yakin dengan prospeknya. Investor diharapkan menangkap sinyal tersebut.

Kelebian teori ini adalah kemampuan dalam menjelaskan mengapa terjadi prningkatan harga saham sebagai tanggapan terhadap peningkatan financial leverage. Kelemahan dari model ini adalah ketidakmampuan dalam menjelaskan hubungan berkebalikan antara profitabilitas dan leverage. Kelemahan lain adalah tidak dapat menjelaskan mengapa perusahaan yang memiliki potensi pertumbuhan dan nilai intangible assets tinggi harus menggunakan lebih banyak hutang daripada perusahaan yang mature (tangible asset tinggi) yang tidak menggunakan hutang, akan tetapi dalam teori diperlukan untuk mengurangi efek dari ketidaksimetrisan informasi.

  • Teori Keagenan (Agency Approach)

Dengan teori ini, struktur modal dibuat untuk mengurangi konflik antara berbagai kepentingan kelompok. Ada kecenderungan bahwa manajer menahan sumber daya untuk mengontrol sumber daya tersebut. Nah, utang dinilai dapat mengurangi konflik dengan konsep free cash flow. Manajer akan dipaksa mengeluarkan kas untuk membayar bunga jika perusahaan berutang.

Setiap perusahaan pada tahap awal berdiri pasti memerlukan modal untuk penetapan struktur modalnya, dan pada saat akan memperluas usaha atau menggabungkan usahanya besar kemungkinannya akan melakukan perubahan struktur modal yang disebabkan adanya perubahan modal atau tambahan modal.

Dua hal yang harus dilakukan perusahaan ; Pertama, menentukan besarnya Kebutuhan modal kuantitatif dan Kedua, menentukan sumber modal kualitatif atau jenis modal yang akan ditarik. Proses pertama dikatakan sebagal proses Kapitalisasi, sedangkan yang kedua dikatakan sebagai proses penentuan Struktur Modal. Untuk menentukan Struktur Modal perusahaan dihadapkan pada berbagai variabei yang mempengaruhinya.

Terdapat 10 variabel yang mungkin akan berpengaruh yaitu ;

  1. Tingkat bunga,
  2. Stabilitas penjualan,
  3. Tingkat pertumbuhan penjualan,
  4. Susunan Aktiva,
  5. Kadar risiko dari aktiva,
  6. Kebutuhan modal,
  7. Struktur saingan,
  8. Keadaan pasar modal,
  9. Sikap manajemen, dan
  10. Sikap pemberi pinjaman.

Bagi perusahaan susunan struktur modal terbaik dikatakan sebagal Struktur Modal Optimum. Struktur modal optimum menurut pendekatan konservatif adalah struktur modal yang menggunakan modal pinjaman maksimum 50% dari total modal. Sedangkan menurut pendekatan biaya modal struktur modal optimum adalah struktur modal yang dapat meminimumkan rata-rata biaya modal perusahaan.

Metoda biaya modal ini dapat dianalisis dengan berbagai pendekatan, dan pendekatan yang dipilih pada persoalan ini adalah Pendekatan Tradisional yang menyatakan bahwa struktur modal optimum akan terjadi pada kondisi rata-rata biaya modal minimum dan nilai perusahaan maksimum.

Dr. Shohib Muslim, S.H., M.Hum (Dosen Politeknik Negeri Malang – Mahasiswa Magister Manajemen Unisma Malang 2020)

Sumber: kafebukubisnis.com

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *