Klaim Masjid Sunah VS Masjid Bid’ah

  • Whatsapp

Oleh: K.H. Ma’ruf Khozin

PWNU Jawa Timur siang ini menugaskan saya menemui tamu dari beberapa Takmir Masjid se-Situbondo untuk menguatkan identitas Masjid NU. Kebetulan ada poster yang mengklaim Masjid Sunnah. Ternyata semua mengarah kepada Masjid NU yang dikonotasikan ‘Bukan Masjid Sunnah’.

Bacaan Lainnya

Baiklah kita uraikan fatwa-fatwa ulama tentang amalan kita—sesuai dengan syariat Islam—di Masjid yang dianggap tidak sesuai Sunnah:

  1. Tidak ada kaligrafi dan tidak ada kuburan di dalam Masjid

Tahu Masjid Nabawi? Di dalam Masjid tersebut banyak kaligrafi dan ada makam Baginda Rasulullah Shalallahu alaihi wa sallam dan kedua sahabatnya. Apakah Masjid Nabawi tidak sesuai Sunnah? Padahal tiap selesai Maghrib dan Subuh banyak Mufti Arab Saudi ngaji di sana? Mikir!

  • Tidak ada Tasbih

Di masa Sahabat sudah ada jenis Tasbih yang digunakan untuk zikir. Berikut riwayatnya:

وفي رواية ألفا عقدة فلا ينام حتى يسبح به، وهو أصح من الذي قبله.

Imam Ahmad meriwayatkan bahwa Sahabat Abu Hurairah memiliki benang dengan 2000 pintalan (bundelan). Beliau tidak tidur sebelum membaca tasbih sejumlah pintalan benang tersebut (Al-Bidayah wa Nihayah 8/120)

  • Tidak ada Qunut Subuh

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ : مَا زَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقْنُتُ فِى صَلَاةِ الصُّبْحِ حَتَّى فَارَقَ الدُّنْيَا . (حم عب) حسن (روضة المحدثين – ج 11 / ص 277)

Diriwayatkan dari Anas bin Malik, ia berkata: “Rasulullah Saw selalu membaca doa Qunut dalam salat Subuh hingga wafat” (HR Ahmad). Ibnu Hajar mengatakan: Hadis Hasan (Raudlat al-Muhadditsin 11/277)

Ternyata ulama Salafi di Arab yang menjadi guru para pendakwah Salafi di negeri ini, yaitu Syekh Muhammad bin Sholih Al Utsaimin, berfatwa berbeda:

من صلى خلف إمام يقنت في صلاة الفجر فليتابع الإمام في القنوت في صلاة الفجر ، ويؤمن على دعائه بالخير ، وقد نص على ذلك الإمام أحمد رحمه الله تعالى

“Barangsiapa yang shalat di belakang imam yang berqunut pada shalat subuh, maka hendaknya dia mengikuti imam berqunut pada shalat subuh, dan mengaminkan doanya dengan baik. Telah ada riwayat seperti itu dari Imam Ahmad Rahimahullah.” (Majmu’ Fatawa wa Rasail ‘Utsaimin 14/177)

  • Tidak ada Salaman

Dalam Mazhab Syafi’i boleh bersalaman setelah salat. Demikian pula Mazhab Hanafi:

وَكَذَا الْمُصَافَحَةُ بَلْ هِيَ سُنَّةٌ عَقِبَ الصَّلَوَاتِ كُلِّهَا وَعِنْدَ كُلِّ لُقِيٍّ وَلَنَا فِيهَا رِسَالَةٌ سَمَّيْتهَا سَعَادَةَ أَهْلِ الْإِسْلَامِ بِالْمُصَافَحَةِ عَقِبَ الصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ .

Demikian halnya berjabat tangan, bahkan sunah setiap selesai salat dan setiap perjumpaan. Ada kitab kami secara khusus dalam masalah ini (Durar Al-Hukkam 2/149)

Ternyata Mufti Saudi juga membolehkan karena dianggap sudah menjadi tradisi:

ولكن الإنسان إذا فعلها بعد الصلاة لا على سبيل أنها مشروعة، ولكن على سبيل التأليف والمودة، فأرجو أن لا يكون بهذا بأس، لأن الناس اعتادوا ذلك.

Namun jika salaman dilakukan bukan karena syariat, tapi karena rasa senang dan cinta, maka tidak apa-apa, karena umat Islam sudah terbiasa (Majmu’ Fatawa wa Rasail 13/212)

  • Tidak ada dzikir berjamaah

اِنَّ رَفْعَ الصَّوْتِ بِالذِّكْرِ حِيْنَ يَنْصَرِفُ النَّاسُ مِنَ الْمَكْتُوْبَةِ كَانَ عَلَى عَهْدِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَقَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ كُنْتُ أَعْلَمُ إِذَا انْصَرَفُوْا بِذَلِكَ إِذَا سَمِعْتُهُ (رواه البخاري)

Ibnu Abbas berkata: ”Sesungguhnya mengeraskan (bacaan) dzikir setelah para sahabat selesai melakukan salat wajib sudah ada sejak masa Nabi Muhammad Saw.” Ibnu Abbas berkata: “Saya mengetahui yang demikian setelah mereka melakukan salat wajib dan saya mendengarnya” (HR Bukhari)

  • Tidak digunakan Maulid Nabi

Maulid Nabi memiliki acara lantunan syair keutamaan Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam, menurut Imam Nawawi boleh kegiatan seperti itu:

(السادسة عشرة) لا بأس بانشاد الشعر في المسجد إذا كان مدحا للنبوة أو الاسلام أو كان حكمة أو في مكارم الاخلاق أو الزهد ونحو ذلك من أنواع الخير: فأما ما فيه شئ مذموم كهجو مسلم أو صفة الخمر أو ذكر النساء أو المرد أو مدح ظالم أو افتخار منهى عنه أو غير ذلك فحرام

Boleh melantunkan syair di Masjid jika berupa pujian untuk Nabi, Islam, hikmah, akhlak mulia dan kebaikan lain. Jika berupa kejelekan seperti sifat khamr, wanita, memuji orang zalim, sombong dll maka haram (Majmu’ 2/177)

عَنْ جَابِرٍ بْنِ سَمُرَةَ ْ قَالَ : كُنَّا نَتَنَاشَدُ الأَشْعَارَ ، وَنَذْكُرُ أَشْيَاءَ مِنْ أَمْرِ الْجَاهِلِيَّةِ ، فَرُبَّمَا تَبَسَّمَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ.

Jabir bin Samurah: “Kami melantunkan Syair dan kisah di masa Jahiliyah, kadang Nabi tersenyum” HR Ahmad

  • Tidak ada pujian setelah Azan

أَفْتَى شَيْخُنَا الشَّوْبَرِيُّ حِينَ سُئِلَ عَمَّا يَفْعَلُ مِنْ الصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَبْلَ الْإِقَامَةِ هَلْ هُوَ سُنَّةٌ أَوْ بِدْعَةٌ بِأَنَّهُ سُنَّةٌ ثُمَّ رَأَيْت ذَلِكَ مَنْقُولًا عَنْ جَمَاعَاتٍ مِنْ مُحَقِّقِي الْعُلَمَاءِ

Syaikh Syaubari berfatwa ketika ditanya tentang bacaan salawat kepada Nabi Saw sebelum iqamah, apakah sunah atau bid’ah? Beliau menjawab sunah, dikutip dari banyak ulama (al-Jamal, 3/147)

  • Tidak ada bedug

Pendiri NU tidak mempermasalahkan bedug:

فِي حُكْمِ ضَرْبِ الطَّبْلِ الْكَبِيْرِ الَّذِي اسْتَعْمَلَهُ مُسْلِمُوْ اَرْضِ جَاوَاهْ فِي مَسَاجِدِهِمْ لِلاِعْلَامِ بِدُخُوْلِ الْوَقْتِ وَالدَّعْوَةِ اِلَى الْجَمَاعَةِ وَهِيَ خَشَبَةٌ كَبِيْرَةٌ طَوِيْلَةٌ جِدًّا يُنْحَتُ جَوْفُهَا نَحْتًا وَاسِعًا وَيُجْعَلُ عَلَى وَجْهَيْهَا جِلْدُ نَحْوِ جَامُوْسٍ وَيُسَمَّرُ عَلَيْهَا بِمَسَامِرَ كَبِيْرَةٍ مِنْ خَشَبٍ تُضْرَبُ بِخَشَبَةٍ صَغِيْرَةٍ فَيَخْرُجُ مِنْهَا صَوْتٌ دَوِيٌّ …. قُلْتُ ضَرْبُ الطَّبْلِ الْمَذْكُوْرِ لِلْغَرَضِ الْمَذْكُوْرِ مُبَاحٌ نَطَقَتْ بِذَلِكَ النُّقُوْلُ الْمَذْكُوْرَةُ بَلْ هُوَ دَاخِلٌ فِي اْلبِدْعَةِ الْمَحْمُوْدَةِ (الرسالة المسماة بالجاسوس في بيان حكم الناقوس 13- 14 للشيخ هاشم اشعري مؤسس جمعية نهضة العلماء)

Hukum tentang Bedug yang digunakan oleh umat Islam Jawa di masjid-masjid mereka, untuk memberi tahu masuknya waktu salat dan mengajak berjamaah. Bedug adalah kayu berukuran besar yang sangat panjang, yang di dalamnya diberi lubang yang luas yang kedua tepinya ditutupi semisal kulit kerbau, dipaku dengan beberapa paku bersa yang terbuat dari kayu, kemudian ditabuh dengan kayu kecil, sehingga mengeluarkan suara gemuruh. Saya katakan: Menabuh bedug dengan tujuan di atas adalah boleh, bahkan masuk dalam bid’ah yang terpuji (Risalah al-Jasus fi Bayani Hukmi an-Naqus 13-14, krya Syaikh Hasyim Asy’ari pendiri NU)

Penulis             : K.H. Ma’ruf Khozin | Ketua Aswaja Center PWNU Jawa Timur & MUI Jawa Timur

Editor              : Febi Akbar Rizki

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *