Kisah Perjuangan KH. Abu Bakar Saat Nyantri dengan Yai Hasyim Asy’ari & Yai Romly Tamim Jombang

oleh: Ahmad Khairudin Sidik

Dewasa ini, ilmu Agama sering dipandang sebelah mata, karena klasik bahkan kuno oleh sebagian masyarakat modern, Seiring berkembangnya teknologi, ilmu Agama bukan lagi menjadi hal favorit dalam konteks kajian keilmuan.

Banyaknya masyarakat modern yang lebih tertarik pada style ataupun kajian-kajian barat menjadi bukti nyata bahwa Ilmu-ilmu keagamaan seperti Fiqih, Hadist ataupun Al-Quran bukan lagi sesuatu yang menarik untuk dikaji secara mendasar dan mendalam, mereka lebih memilih menyekolahkan anaknya di lembaga-lembaga internasional daripada tradisional pesantren. Akibatnya adalah degradasi moral generasi bangsa yang begitu cepat. Hal ini membuat KH. Abu Bakar, santri sang Kiyai Hadrotusyekh Hasyim Asy’ari, merasa prihatin akan kondisi saat ini.

Beliau merupakan tokoh inspiratif memiliki semangat tinggi dalam keagamaan dan pendidikan, bahkan menurut informasi salah satu tetangganya, beliau sangat perhatian kepada dunia pendidikan dibuktikan dengan banyaknya lembaga pendidikan mulai dari Sekolah Dasar samapai Sekolah Menengah yang beliau rintis.

Tinggal di desa Bandung kecamatan Diwek Jombang, beliau merupakan santri Pondok Pesantren Tebuireng yang sempat bertemu dan mengaji langsung bersama Mbah Hasyim pada tahun 1943. Semangat untuk mendapatkan ilmu Agama dari sang Kiyai beliau harus menempuh jarak yang sangat jauh dari rumahnya ke pesantren dengan berjalan kaki, sebab beliau merupakan santri ‘kalong’ (istilah jawa) artinya tidak mukim tetap di pesantren, tak jarang juga beliau bertemu dengan para penjajah pada saat itu.

Sebagai tokoh klasik yang juga ditakdirkan untuk merasakan kehidupan modern beliau berpesan kepada generasi muda agar terus mengkaji ilmu Agama ” ‘Mumpung sek enom Ngaji sing mempeng’ Mumpung masih muda ngaji yang tekun.” Tutur beliau dalam menasehati kami

Beliau juga menuturkan kepada kami agar tidak hanya mempelajari satu bidang ilmu Agama saja artinya bahwa ngaji Qur’an Fiqih dan Hadist harus seimbang.

Sebenarnya masih banyak cerita dan nasehat yang ingin kami dapatkan dari beliau, Kh.Abu Bakar pun juga terlihat masih ada banyak hal yang nampaknya ingin beliau sampaikan kepada kami, tetapi di umur beliau yang sudah hampir 100 tahun membuat kami sungkan untuk berlama-lama ngobrol. Sebab, nampak juga tabung gas oksigen kecil dipinggir beliau yang membuat kami menghawatirkan akan kesehatannya

Belum puas atas informasi yang kami kumpulkan, kami menemui Gus Nanang putra bungsu Kh. Abu Bakar untuk memperoleh informasi lebih lanjut

Gus Nanang menyampaikan bahwa ayahandanya adalah sosok yang sangat tekun dan istiqomah dalam mempelajari ilmu agama “sampe sekarang beliau masih sering buka-buka kitab mas” Tutur Gus Nanang.

Selanjutnya Gus Nanang, melanjutkan cerita nya bahwa ayahandanya dulu selain ngaji di Tebuireng juga ngaji thoriqoh kepada KH. Romly Tamim Rejoso Peterongan, selain daripada itu ia juga menjelaskan bahwa ayahandanya dulu aktif di NU bahkan sampai dua puluh tahun menjadi Rois Syuriah MWC NU Diwek Jombang.

Semoga kita bisa meneruskan semangat perjuangan beliau, Aamiin

Leave a Reply