KH Oesman Mansyur: Dari Mengajar Islam Di Gereja Hingga Sosok Dibalik Berdirinya UIN Maliki Dan UNISMA

  • Whatsapp

Kota Malang terkenal dengan kota pendidikan yang tak lepas dengan perkembangan Universitas didalamnya. UIN Maliki dan UNISMA  termasuk kampus yang punya andil besar dalam kemajuan pendidikan di kota Malang terutama pada sektor Agama. Bila kita melihat kemegahan gedung di UNISMA (universitas Islam Malang) dan Universitas Islam Negeri (UIN) Maulana Malik Ibrahim (Maliki) Malang, mengingatkan pada sosok nama besar KH. Oesman Mansoer. Kiai kelahiran 23 Maret 1924 di Blega (Bangkalan, Madura)  ini merupakan salah satu perintis dan pendiri perguruan tinggi, yang menjadi kebanggaan warga nahdliyin, khususnya masyarakat Malang.

Secara khusus, putra pertama dari tiga bersaudara, masing-masing KH. Oesman Mansoer, KH. Prof. Dr. M. Tholhah Mansoer, dan Mardiyah dari pasangan H. Raden Jalaluddin Krama Asmara dan Hj. Nur Chodijah, (Madura), yang masih ada garis keturunan dengan Adikara IV ini, hanya mengeyam pendidikan formal di  Madrasah Muallimin Jagalan, yang dirintis KH Nachrowi Thohir. Beliau hijrah ke Malang sekitar tahun 1930 dan menetap di Jl Prof Moh. Yamin (belakang Masjid Noor Kidul Pasar).

Bacaan Lainnya

Sedangkan pendalaman ilmu agama lebih banyak diperoleh dari Habib Abdul Qodir bil Faqih, Pengasuh Ponpes Darul Hadits Jl Aries Munandar Malang. Bahkan, Kiai Oesman termasuk santri khusus yang mendalami ilmu fiqih dan Thoriqot Alawiyah. Selain itu, setiap bulan Ramadan tabarrukan (nyantri) ke Hadratusysyaikh KH. Hasyim Asy’ari dan KH Wahab Chasbullah, Jombang.

Meski hanya mengenyam pendidikan di Muallimin, namun Kiai yang bercita-cita jadi seorang guru ini menguasai empat bahasa. Diantaranya, Bahasa Arab, Belanda, Inggris, dan Bahasa Latin. Sekitar tahun 1940-1942, Kiai yang masih keponakan KH. R. As’ad Syamsul Arifin, Situbondo ini ditugaskan NU untuk mengajar di Madrasah NU di Pudakit, Kecamatan Sangkapura, Bawean.

Perjuangan/Pengabdian

Sewaktu Jepang masuk Indonesia, dia pulang ke Malang. Sejak itu, mulai aktif di organisasi kepemudaan Ansor. Bahkan, menjadi Ketua GP Ansor Cabang Malang, menjadi Komandan Laskar Sabilillah di Malang pada 1949, dan sempat menjadi tangan kanan KH Masykur,  Panglima Sabilillah.

Cita-citanya untuk mengabdi di dunia pendidikan terus belanjut, sekitar tahun 1955, Kiai berputra 11 orang dari pasangan Hj. Fathonah,  cucu KH. A. Ghoni Surabaya ini menjadi Kepala SMP Islam Jl. Kartini Malang. Kemudian bersama KH. Ghozali dan Prof. M. Khusnu merintis berdirinya Universitas NU (UNU), yang merupakan cikal bakal berdirinya Unsuri (Universitas Sunan Giri, yang pada 1981 berubah menjadi Unisma, dan beliau menjadi rektornya hingga 1989). Selain itu, beliau juga mendirikan cabang Fakultas Tarbiyah PTAIN Jogya di Malang, (yang kemudian dikembangkan menjadi STAIN Malang, dan kini berubah menjadi UIIS) yang pada 1963-1972 menjabat sebagai dekan.

”Selain mengabdi di dunia pendidikan, pada 1972 ayah  juga berkeinginan mendirikan Pesantren Luhur atau Ma’had Ali,  semacam pasca sarjana pondok pesantren, yang sekarang dikembangkan di Pesantren Luhur Sumbersari oleh H. Muhdor Ahmad,” kata M. Fatich, PR III Unisma, putra kelima Kiai Oesman.

Setelah pensiun dari dinas Bimbingan Mental (Bintal) TNI di Kodam V Brawijaya pada 1979, dengan pangkat terakhir Mayor, Kiai Oesman, yang masih kerabat dekat dengan R. Hartono, mantan KSAD, dan R. Wardiman Djojonegoro, mantan Mendikbud waktu itu, dipercaya menjadi Ketua MUI Kota Malang dan Ketua Takmir Masjid Agung Jami’ Malang hingga akhir hayatnya. Sebenarnya, beliau pernah dicalonkan menjadi Bupati Lumajang, tapi tidak mau. Beliau lebih memilih mengabdi di dunia pendidikan.

Mengajar Islam di Gereja bersama Gus Dur

Dalam mendidik putra-putrinya, kata Fatich, Kiai pengagum Mahmud Salthut, Rektor Al Azhar Mesir ini sangat demokratis. ”Asal bekal pengetahuan agamanya dinilai cukup, putra-putrinya diberi kebebasan untuk menentukan cita-cita dan profesi yang akan ditekuni,” ujarnya. Bahkan, dalam masalah keagamaan, Kiai Oesman lebih moderat, namun sangat hati-hati. Sebelum Gus Dur mengajar di Gereja Kristen Jawi Wetan (GKJW) Sukun, Kiai yang tekun shalat Dhuha ini sudah mengajar masalah Islamologi dan Kristologi pada calon-calon pendeta di GKJW  sekitar tahun 1967-1974. Sekitar tahun 1958, beliau diminta Markas Besar (Mabes) TNI AD untuk membuat rumusan penafsiran Pancasila dari tinjauan Islam, yang dipaparkan dalam seminar AD pertama pada 1958.

”Jadi, sebelum orang-orang meramaikan masalah azas tunggal, Kiai Oesman sudah mempunyai konsep tersebut, hingga kemudian muncul pemikiran KH. Ahmad Shidiq tentang hubungan Islam dengan Pancasila. Sayangnya, waktu itu tidak sempat dibukukan pemikiran beliau,” kata Drs. H. Nur Chozin Iskandar, santri Kiai Oesman, yang juga salah satu Pengasuh Ponpes Kampus Ainul Yaqin Unisma.

Beberapa santri beliau lainnya, diantaranya Drs. H. Dahlan Tamrin M.Ag, H. Imam Chambali, SmHk, Ghaffar Rahman, dan Ketua Umum PBNU KH Drs. A. Hasyim Muzadi, yang juga menjadi pembimbing sewaktu Pengasuh Ponpes Al Hikam itu menyusun skripsi. Beliau wafat pada 7 Februari 1989 dan di makamkan di pemakaman umum Kasin.

Sumber: https://masjidjami.com/profile-kyai/kh-oesman-mansoer.html

Pewarta: Malik

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

1 Komentar

  1. Keren bagus, inspiratif dan visioner, sayang waktu itu saya masih berumur 10-15 tahun, belum sempat menimba ilmu kepada belaiau
    Tapi saya sempat bisa ngaji kepada muridnya beliau Mbah Hasyim Asy’ari dan Yaitu Dahlan tamrin
    ayah saya Muh Hasyah memanggilnya man kaji /paman ….embah saya …lahumul fatihah … Oesman Mansur & Muh Hasyah ….