Ketum PBNU, Singgung FPI dan HTI pada Pembukaan Muktamar

LAMPUNG – kegiatan Muktamar yang ke 34 Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) resmi dibuka oleh Presiden Republik Indonesia Ir. H. Jokowi di Pondok Pesanteren Darussa’adah pada Rabu, 22/12/2021.

Walau ditengah pandemi panitia pelaksana tetap melaksanakan Muktamar secara online  dan offline di empat tempat yakni di Ponpes Darussa’adah, Universitas Raden Intan, Universitas Lampung dan Universitas Malahayati Bandar Lampung.

Bacaan Lainnya

Setidaknya ada sekitar 1.959 peserta muktamar yang terdaftar namun panitia hanya mengizinkan 600 peserta yang bisa memasuki lokasi pembukaan muktamar. Selain itu, panitia juga membentuk tim khusus demi menjaga protokol kesehatan.

Kegiatan dimualai dengan acara seremonial dan dilanjut dengan sambutan beberapa tokoh diantaranya adalah Ketua Umum PBNU KH. Said Aqil Sirajd, sebagai ketua umum beliau bersukur atas usia Panjang jamaah dan jamiyah nahdlatul ulama adalah bentuk bukti kasih sayang Allas SWT.

K.H Said Aqil Siraj Ketum  PBNU bercerita tentang bagaimana perkembangan Gerakan wahabisasi sebagai embrio radikalisme di negeri hijaz sedangkan di nusantara patriotisme mulai menemukan bentuknya jati dirinya. Perlawanan terhadap penjajahan, kemiskinan, dan ketidak adilan terus bergelora hingga sampailah yang dikenal sebagai era kebangkitan nasional.

Dirinya melanjutkan dengan cerita serta rasa syukurnya yang berada di negeri Arab selama sebelas tahun yang membuat dirinya menghayati betul arti penting NU untuk Indonesia dan dunia.

“Dengan segala hormat di arab agama sedari awal tidak menjadi unsur aktif dalam mengisi makna nasionalisme, Jika anda membaca sejarah dan naskah konstitusi negara arab maka anda akan tahu betapa mahal dan berharganya pembukaan naskah UUD 45,” tuturnya.

Beliau juga menyinggung konflik yang ada di negara timur tengah akibat tidak banyaknya ulama yang nasionalis. Sebagai akibatnya nasionalis dan agama sering dipertentangkan maka lahirlah konflik yang berkelanjutan.

Yai Said juga mengutip wasiat pusaka hadaratusyaikh K.H. Hasyim Asyari yang menyatakan bahwa nasionalis dan agama adalah dua kutub yang paling menguatkan keduanya jangan dipertentangkan menjadikan landasan bahwa NU dari dulu bersikapt tawasut dalam hal agama dan nasionalis

Ditengah sambutannya beliau menyampaikan betapa berat amanah NU dalam menjaga moderasi kutub-kutub ekstrim di Indonesia. Lanjutnya ditinya menyinggung kelompok yang tidak paham sikap NU atas HTI maupun FPI.

“Mereka yang tidak paham sikap NU atas HTI maupun FPI barangkali memang belum mengerti betapa berat amanah moderasi kutub-kutub ekstrim dinegeri ini, bagi NU dan Pesanteren menjaga NKRI adalah karena hanya dengan bersetia kepada Konstitusi tatanan beragama dapat diselenggarakan,” tutupnya

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *