Kesetaraan Gender: Mengapa Harus Tetap Disuarakan?

Oleh: Hikmah Imroatul Afifah

Beberapa waktu lampau, saya tidak sengaja membaca unggahan seorang pemengaruh (influencer) di bidang keagamaan dengan puluhan ribu pengikut. Tampak jelas di unggahan tersebut, sebuah dawuh dari Kiai Bahaudin Nursalim—atau biasa kita panggil Gus Baha—untuk menghormati dan memuliakan perempuan. Saya tentu tak punya alasan untuk mengingkari dawuh tersebut. Namun, yang justru membuat saya mengernyitkan dahi adalah kalimat sang influencer. Ia menambahkan kalimat yang kurang lebih redaksinya begini, “Nggak usah jauh-jauh pakai kesetaraan gender. Wong ulama kita sudah mengajarkan untuk memuliakan perempuan.”

Bacaan Lainnya

Saya paham bahwa lema “kesetaraan gender” di situ mengarah pada gerakan kesetaraan gender yang akhir-akhir ini makin masif bergerak. Tentu bukan lagi rahasia, jika gerakan kesetaraan gender ini menuai pro dan kontra. Beberapa narasi kontra tidak hanya datang dari kalangan awam, melainkan juga dari kalangan pemuka atau pemengaruh di bidang keagamaan. Umumnya, narasi kontra yang berasal dari para pemuka agama—atau langsung saja kita sebut sebagai ustaz dan ustazah—memakai syariat sebagai tombak utamanya. Selain dibenturkan dengan syariat, gerakan kesetaraan gender juga sering dilabeli sebagai gerakan yang menabrak syariat. Benarkah begitu?

Syariat Bukan Korban Tabrak

Titik awal isu kesetaraan gender menabrak syariat ini, tentu bisa kita lacak dengan mudah. Berabad-abad lamanya—bahkan hingga kini—patriarki hidup dan dijadikan satu-satunya cara pandang oleh mayoritas masyarakat dunia. Cara pandang patriarkis ini bahkan juga dijadikan landasan untuk menafsirkan teks-teks keagamaan. Itulah yang menyebabkan ajaran agama terasa kurang ramah perempuan bagi sebagian kalangan.

Teks-teks keagamaan yang difirmankan oleh-Nya Yang Mahaadil, tentu saja mustahil bersifat tidak adil. Lalu mengapa beberapa kalangan merasa Islam tidak adil bagi perempuan? Ya, sebab tafsirnya yang tidak membawa serta cara pandang perempuan. Tafsirnya, lho, ya. Bukan teks aslinya. Kekeliruan memosisikan tafsir atas suatu teks ini juga yang menyebabkan beberapa ustaz atau ustazah buru-buru menuding gerakan kesetaraan gender sebagai produk barat dan bertujuan mengobrak-abrik syariat. Seperti biasa, apa pun isunya, liberal; komunis; antek aseng; dan tak paham agama adalah tudingannya.

Jika saja kita mau merenung sejenak, sesungguhnya gerakan kesetaraan gender tidaklah menabrak apa pun. Entah itu syariat maupun budaya. Di Indonesia sendiri, banyak bermunculan ulama-ulama yang peduli—bahkan menjadi motor—terhadap gerakan kesetaraan gender. Sebut saja di antaranya Kiai Husein Muhammad; Nyai Badriyah Fayumi; Nyai Nur Rofiah; Nyai Umdatul Khoirot; Nyai Luluk Farida; Kiai Imam Nakhei; dan ulama-ulama lain yang hadir pada Kongres Ulama Perempuan Indonesia pada tahun 2017, serta banyak ulama lainnya yang tidak bisa hadir, namun mendukung penuh gerakan kesetaraan gender. Keilmuan beliau-beliau tentu tidak bisa kita anggap sepele. Agar tidak sebatas berkaca pada figur, mari kita coba untuk mengaca pada prinsip dan nilai.

Jamak kita ketahui bahwa visi Islam adalah menjadi rahmat bagi seluruh makhluk yang ada di dunia. Visi tersebut jelas mengamanahkan kita, sebagai umat Islam, untuk berbuat baik pada semua makhluk, tidak terkecuali pada perempuan. Dan gerakan kesetaraan gender, hadir sebagai alat untuk mencapai visi tersebut. Penolakan perempuan dijadikan makhluk nomor dua, kemudian penolakan domestifikasi perempuan, dan kemanusiaan perempuan adalah di antara hal yang diperjuangkan oleh para aktivis kesetaraan gender.

Perempuan yang sering kali dinomorduakan, tidak diberi akses yang setara, dan kadang-kadang dikebiri kemanusiaannya, adalah makhluk Allah yang sama-sama diberi amanah sebagai khalifah fi al-Ardl. Amanah tersebut bukan hal yang remeh-temeh. Amanah agung itu berlaku bagi laki-laki dan perempuan. Dalam melaksanakan amanah tersebut, tentu saja laki-laki dan perempuan harus diberi akses dan hak yang setara.

Jika kesetaraan akses tersebut sudah tercapai, maka kesejahteraan sosial adalah hal yang sangat mungkin untuk digapai. Tujuan akhir untuk mencapai kesejahteraan sosial dan melahirkan banyak kemanfaatan inilah, yang justru sering kali luput dilihat dari gerakan kesetaraan gender. Padahal jika kita mengacu pada maqasid syariah perspektif Imam Syatibi, maka segala konsep dan tindakan yang memakai prinsip jalb al-mashalih wa dar’u al-mafasid  adalah sesuatu yang syar’i.

Jadi, apakah pantas jika kesetaraan gender disebut sebagai sesuatu yang menabrak syariat? Jawabannya, ada pada kejernihan kita dalam berpikir dan merenungi uraian singkat di atas.

Mengapa Kesetaraan Gender Tetap Harus Disuarakan?

Tatanan masyarakat kita yang telanjur nyaman dengan patriarki membuat gerakan kesetaraan gender mudah dipandang sebelah mata. Selain patriarkis, masyarakat kita juga cenderung misoginis. Yang menyedihkan lagi, jiwa patriarkis dan misoginis tersebut sudah terinternalisasi di alam bawah sadar. Hal inilah yang menyebabkan mayoritas masyarakat merasa terusik ketika mendengar nilai-nilai yang diperjuangkan oleh aktivis gender.

Soal dawuh untuk menghormati dan memuliakan perempuan, tentu saja itu adalah hal yang mutlak. Namun bagaimana penghormatan dan pemuliaan itu diwujudkan, dengan menggunakan sudut pandang perempuan sebagai subjek penuh atas hidup dan kehidupannya? Nilai-nilai yang diusung oleh kesetaraan genderlah yang akan menjadi landasannya.

Jika pernyataan tersebut masih dihadang dengan pernyataan, “Ah, itu hanya asumsi. Perempuan diatur, kan, untuk kebaikan dan kebahagiaannya.” Sebentar, izinkan saya bertanya. Kebaikan dan kebahagiaan apa yang timbul dari tindakan pemaksaan yang dilandasi oleh sikap merasa superior? Mengatasnamakan ajaran Allah Yang Mahaadil pula.

Denial lain yang sering muncul adalah dengan menyebutkan fakta perempuan di sekitarnya yang terlihat baik-baik saja. “Tetangga saya si A, si B, baik-baik saja tuh diatur-atur. Mereka dapat akses pendidikan, kok.” Begini, kita—tidak terkecuali saya, memang acap kali menilai dunia dari apa-apa yang tampak di pelupuk mata saja. Padahal di belahan bumi bagian sana—yang tak terjangkau oleh mata, ada para perempuan yang hidupnya terjebak dalam siklus kekerasan tanpa akhir; tidak mendapat hak-haknya sebagai manusia dan subjek penuh; dikebiri kemanusiaannya oleh oknum yang mengaku paham agama; dilemahkan hingga tidak punya kesempatan berdaya; dan sederet dampak negatif lainnya dari cara pandang patriarkis. Maka, mari belajar untuk menengok, sukur-sukur mau menjenguk dan mendampingi kawan-kawan perempuan kita yang hidup dalam blind spot. Semoga kita tidak termasuk dalam kategori “santri menara gading” yang disebutkan oleh Allah yarham Kiai Sahal Mahfudz—yang juga terkenal sebagai ulama yang sangat mendukung emansipasi perempuan. Ora gelem mudun, angkruk-angkruk thok neng nduwur menara.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.