Kenapa Hanya Gus Yaqut?

  • Whatsapp

Sejak diumumkan oleh Presiden Jokowi sebagai Menteri Agama, nama Gus Yaqut tak henti-hentinya jadi sorotan. Media sosial ramai memperbincangkan. Dari mulai ucapan selamat, doa, rasa haru dan bangga, bahkan fitnah dan narasi kebencian bertebaran. Seolah tidak ada yang lebih menarik hari ini selain nama Gus Yaqut, Menteri Agama pertama Republik Indonesia yang lahir dari rahim organisasi pemuda milik Nahdlatul Ulama, Gerakan Pemuda Ansor.

Padahal ada enam Menteri yang diumumkan oleh Presiden Jokowi. Bahkan di antaranya ada nama-nama top sekaliber Tri Risma Harini, Wali Kota Surabaya yang terkenal sebab keberaniannya menutup Gang Doli. Ada Sandiaga Uno, Calon Wakil Presiden yang mengikuti jejak pasangannya (Prabowo) jadi Menteri. Tapi kenapa yang ramai diperbincangkan hanya Gus Yaqut Cholil Qoumas?

Bacaan Lainnya

Mari kita analisa. Pertama, ibarat dua sisi mata uang, Gus Yaqut muncul sebagai harapan di satu sisi dan ancaman di sisi lainnya. Harapan bagi siapa? Harapan bagi segenap bangsa Indonesia yang ingin terus hidup rukun berdampingan dalam sekian banyak perbedaan dan keberagaman yang ada. Mereka menaruh harapan besar pada sosok muda dan energik ini agar di bawah kendalinya, Kementrian Agama mampu menjadi pengayom dan pelayan bagi seluruh umat beragama yang ada di Indonesia.

Lantas munculnya Gus Yaqut jadi ancaman bagi siapa? Bagi mereka-mereka yang belum selesai dengan urusan antara Agama dan Negara. Apalagi bagi ekstrimis-ekstrimis yang terus berupaya menghendaki mimpi-mimpi mereka tentang sebuah bentuk sistem bernegara berlandaskan Agama bisa diterapkan di Indonesia. Kenapa menjadi ancaman? Jangankan dengan posisi hari ini sebagai Menteri Agama, lha wong dengan posisinya sebagai Ketua Umum Gerakan Pemuda Ansor saja membuat mereka kerepotan. Apalagi hari ini. Gerakan-gerakan dan gebrakan-gebrakannya sudah bisa kita dengar dan kita lihat bahkan sejak pidato pertamanya di Istana Negara yang berkomitmen menjadikan ruh Agama sebagai Inspirasi, bukan Aspirasi.

Belum lagi dinamika pasca Pilpres 2019 lalu sudah selesai dengan bergabungnya Prabowo-Sandi sebagai Menter di kabinet Presiden Jokowi. Lantas pada siapa mereka harus menaruh harapan dan aspirasi? Maka tidak ada lagi pilihan selain membuat riuh media sosial dengan fitnah dan narasi-narasi kebencian. Harapannya tentu, siapa tau dapat memancing reaksi netizen sebagai mana yang terjadi pada Ahok di Pilkada DKI beberapa tahun lalu. Itupun sangat kecil kemungkinannya sebab hari ini TNI dan Polri sudah jauh lebih tegas dan berani.

Saya sendiri termasuk orang yang menaruh harapan besar pada Gus Yaqut. Harapan besar yang seperti apa? Harapan Gus Yaqut mampu meneruskan dan mengimplementasikan pikiran-pikiran Gus Dur tentang kebhinekaan. Tentu ini bukan hal yang mudah. Berat sekali. Bahkan kita sama-sama tahu sekaliber Gus Dur pun harus menghadapi begitu banyak fitnah dan kebencian demi bisa melindungi hak-hak minoritas sebagai warga negara.

Seperti kata pepatah, semakin tinggi pohon berdiri, semakin kencang angin menerjang. Perjalanan Gus Yaqut hari ini baik sebagai pribadi maupun sebagai pimpinan organisasi telah jauh lebih tinggi. Menjadi Menteri Agama disaat politisasi Agama menguat tentu adalah hal yang berat. Angin fitnah dan kebencian dari mereka yang menafsirkan sosok Gus Yaqut sebagai ancaman akan semakin besar menerjang.

Terakhir, sebagai seorang santri, saya yakin dan percaya Gus Yaqut telah berhasil mendalami ilmu padi yang semakin merunduk saat sudah berisi. Jabatan yang tiba-tiba datang tanpa diminta itu adalah sebuah amanah dan tanggungjawab yang harus dijalani dengan sepenuh hati. Cukup ditirakati lan diriyadhoi, jabatan yang sejatinya adalah cobaan akan mampu dilalui dengan aman, lancar dan selamat. Serta harapan dari sekian banyak orang itu akan dapat terealisasi. InsyaAlloh.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *