K.H. Saifudin Zuhri Kiai Santri dan Negeri ini

Malang, Sabar, penyayang dan berjiwa Nasionalisme mungkin itu penggambaran untuk sosok Abah Kyai Haji Saifudin Zuhri. Beliau adalah sosok yang penyayang terhadap semua santri dan para jamaah. Beliau juga merupakan sosok kyai yang memiliki semangat nasionalisme sangat tinggi ini bisa dilihat apabila beliau mengisi pengajian pada rutinan Sabtu pagi yang diadakan beliau di Pondok Pesantren I’anatut Tholibin, pondok pesantren yang didirikan oleh beliau kurang lebih 10 tahun.
Nasihat atau kata-kata mutiara yang selalu beliau sampaikan dalam pengajiannya adalah membela negara tanpa menodai agama membela agama tanpa merusak NKRI.
Dalam pengajiannya beliau selalu menyampaikan untuk tidak menjadi masyarakat yang mudah termakan oleh isu-isu yang beredar di masyarakat ataupun di media massa. Di media massa ataupun internet untuk menghindari perpecahan karena isu tersebut isu yang dibuat untuk memecah belahkan masyarakat dan negara dengan berbagai isu atau berita palsu yang memancing pertikaian.

Ada cerita menarik seputar masa kecil Beliau yang dituturkan oleh Almarhumah Mbah Putri, Ibu dari KH. Saifudin Zuhri. Mbah Putri sengaja menamai Abah dengan Saifudin Zuhri karena sewaktu Mbah Putri mengandung, Mbah Putri mengidolakan Menteri Agama pada masa itu yang bernama Saifudin Zuhri. Sosok yang memiliki jiwa Nasionalisme yang tinggi. Begitu cerita masa kecil yang dituturkan Mbah Putri yang menurut Beliau membuat Abah Saifudin Zuhri memiliki jiwa Nasionalisme yang tinggi. Mbah Putri juga menuturkan bahwa sifat penyayang Beliau itu juga sudah terlihat dari kecil, Beliau sangat menyayangi hewan dan tidak tega melihat hewan terluka khususnya burung karena Abah sangat menyukai burung dari kecil hingga sekarang.

Bacaan Lainnya

Sedikit pengalamanku sendiri sewaktu mondok di pondok pesantren i’anatut tholibin aku sebagai santri memiliki pengalaman berharga yang tidak bisa aku lupakan. Waktu itu pagi menjelang siang sekitar pukul 10 pagi ada tamu yang sowan ke ndalem untuk memondokkan anaknya. Kemudian selang beberapa waktu salah seorang tamu tersebut bertanya sesuatu entah saat itu aku tidak mendengar apa yang ditanyakan tamu tersebut tetapi jawaban Abah yang begitu nyaring sungguh tidak bisa kulupakan sampai saat ini. “Neng kene Ning pondok sing elek sing ora apik bocah sing kelakuane ora apik ora tak usir tapi tak didik.” Begitu tutur Abah dalam bahasa Jawa yang apabila diterjemahkan dalam bahasa Indonesia di sini di pondok yang jelek yang tidak baik anak yang kelakuannya tidak baik tidak aku usir tapi ku didik menjadi baik. Begitulah kata-kata Abah yang tidak bisa kulupakan kata-kata atau jawaban yang sederhana tetapi memiliki makna yang sangat luas dan dalam. Saat itu aku masih menjadi salah satu Abdi dalem beliau saat itu aku sedang memakaikan baju kepada salah satu cucunya di ruang tengah yang berada tepat di belakang ruang tamu di dalam maka apapun yang dikatakan Abah terdengar jelas olehku.

Memang selama aku mondok Abah tidak pernah menganggap kami para santri baik yang dalam atau abdi dalem dan santri lain sebagai orang lain kami semua dianggap sebagai keluarga sendiri sebagai anak sendiri yang dipimpin beliau untuk berjuang bersama membenahi diri di pesantren agar suatu saat nanti apabila kembali hidup bermasyarakat bisa menjadi santri yang berguna bagi masyarakat sekitar.

Sifat sabar dan penyayang ini pula yang disenangi atau dikagumi oleh para jamaah salah satu jamaah pernah bercerita bahwa saat ziarah wali Abah selalu sabar memimpin jamaah yang kebanyakan para orang tua apa selalu sabar menunggu jamaah yang tertinggal karena mungkin jalannya susah jadi saat berdoa di makam ataupun saat salat berjamaah tidak ada yang pernah tertinggal begitu cerita jamaah saat itu. Sifat sabar dan penyayang ditambah jiwa nasionalis beliau yang sangat tinggi membuat orang yang yang mengenal beliau memiliki kesan tersendiri yang tidak bisa dilupakan baik itu para santri jamaah ataupun orang lainnya Abah memiliki sifat sabar dan penyayang didukung dengan jiwa nasionalisme yang sangat tinggi membuat beliau menjadi sosok yang membuatnya bisa mengayomi seluruh lapisan. Itulah sosok Abah kyai haji Saifudin Zuhri dalam kenangan ku dan dalam kenangan para santri yang mengenal beliau.

Abdi Dalem PP I’anatut Tholibin

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.