Jumat Call: Tiga Etika Ketika Membaca Sholawat

Ketika Allah memerintahkan manusia untuk membayar zakat, menunaikan shalat, menunaikan haji ke Mekkah, dan menjalankan hukum-hukum lainnya, tidak ada pernyataan bahwa Allah melakukan semua itu.

Namun, begitu Allah memerintahkan Nabi Muhammad SAW untuk membaca shalawat, Allah Swt. menunjukkan bahwa Allah sendiri juga akan bershalawat kepada Nabi Muhammad SAW. Hal itu sebagaimana yang termaktub dalam QS. Al-Ahzab ayat 56 :

Bacaan Lainnya

إِنَّ اللهَ وَمَلائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلًِ

Artinya :

Sesungguhnya Allah dan para malaikat itu bershalawat kepada Nabi. Wahai orang-orang yang beriman, ucapkanlah shalawat dan salam kepadanya (Nabi Muhammad Saw).

Dari ayat tersebut terungkap bahwa ketika membaca shalawat hendaklah dengan cara yang baik. 

Etika bershalawat itu diperankan sendiri oleh Allah Swt. beserta para malaikat. Seolah-olah Allah telah membuat contoh, “Beginilah cara bershalawat!”

Berikut perilaku dan etika ketika membaca shalawat :

1. Tidak Memanggil Nama “Muhammad” Secara Langsung

Ketika Allah bersholawat kepada Nabi tidak memanggil nama Nabi Muhammad dengn menyebut nama aslinya. Di dalam Al-Quran itu tidak ada lafal yang menyatakan Allah memanggil Nabi Muhammad Saw dengan lafal “Ya Muhammad!” . Nabi Muhammad Saw dipanggil dengan lafal “Ya ayyuhannabi!” atau “Ya ayyuharrasul!”.

2. Mengedepankan Nilai Hudur dalam Membaca Shalawat

Ketika membaca shalawat diiringi dengan musik, terbang atau lainnya maka wajib mengedepankan nilai hudur, nilai di hadapan Rasulullah SAW. Bukanlah nilai musik yang dikedepankan. Dengan begitu, orang yang merasa membaca shalawat itu seakan-akan berada di hadapan Rasulullah Saw.

3. Tidak Bergurau ketika Membaca Shalawat

Hendaklah tidak bergurau sehingga mengurangi nilai-nilai etika dalam bershalawat. Sebagaimana Allah dalam bershalawat yakni dengan cara yang sangat sopan dan sangat bagus. Seperti ketika berbicara kepada kiai sepatutnya tidak bergurau terlebih lagi kepada Rasulullah Saw hendaknya dengan sopan dan tidak bergurau.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *