Jumat Call: Bolehkah Bersiwak Menggunakan Tangan? Berikut Penjelasanya

Islam sangat mengutamakan kebersihan kepada para pemeluknya. Hal ini selarasa dengan maqolah “kebersihan adalah sebagian dari iman’. Salah satunya Islam sangat emnganjurkan umatnya untuk bersiwak. Sebagaimana telah disabdakan oleh Bagianda Rasulullah SAW.

لَوْلَا أَنْ أَشُقَّ عَلَى أُمَّتِي لَأَمَرْتُهُمْ بِالسِّوَاكِ عِنْدَ كُلِّ صَلَاةٍ

Bacaan Lainnya

“Seandainya tidak memberatkan umatku, niscaya akan aku perintahkan mereka untuk bersiwak setiap kali hendak shalat.” (HR. Muslim no. 252)

Sedangkan untuk salat Jum’at, terdapat dalil khusus tentangnya. Diriwayatkan dari Abu Sa’id Al-Khudhri radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

غُسْلُ يَوْمِ الْجُمُعَةِ عَلَى كُلِّ مُحْتَلِمٍ، وَسِوَاكٌ، وَيَمَسُّ مِنَ الطِّيبِ مَا قَدَرَ عَلَيْهِ

“Mandi hari Jum’at itu wajib atas setiap orang yang telah baligh, bersiwak, dan memakai minyak wangi sesuai dengan kemampuannya.” (HR. Muslim no. 846)

Alat Bersiwak

Dikutip dalam kitab Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah Bahwa alat yang dapat digunakan bersiwak ialah setiap benda kasar yang suci dan dapat menghilangkan kerak kuning pada gigi, meskipun sehelai kain, atau jari tangan orang lain yang kasar dan tidak terpotong. Bukan jari milik diri sendiri meskipun kasar, karena anggota badan diri sendiri tidak dianggap sebagai alat bersiwak. Bukan pula jari orang lain yang telah terpotong, karena anggota tubuh yang telah terpotong harus dikuburkan. Dengan memandang syarat-syarat tersebut, hukum bersiwak dengan menggunakan obat kumur dianggap tidak mencukupi.

Alat siwak yang paling utama adalah kayu Arok karena jenis kayu ini memiliki rasa dan bau yang sedap serta serabut-serabut kecil yang mampu membersihkan cela-cela gigi , kemudian dahan pohon kurma, pohon zaitun, pohon yang berbau wangi, dan urutan terakhir ialah semua jenis pohon kayu dan benda lain yang memiliki tekstur yang kasar.

Panjang siwak yang disunnahkan adalah sejengkal dan yang paling pendek berukuran tidak kurang dari 4 jari selain ibu jari (ada pendapat yang mengatakan 12 cm). Dan besar siwak yang ideal adalah tidak lebih besar dari ibu jari dan tidak lebih kecil dari jari kelingking, tidak terlalu lembut dan juga tidak terlalu keras.

Selain itu, Mustak fih, yaitu bagian tubuh yang disiwaki, yakni bagian mulut. Mencakup gigi, langit-langit mulut, dan lidah.

Niat sunnah.

Dalam permasalahan siwak ini, imam ar-Ramli mengharuskan niat dalam bersiwak kecuali jika pelaksanaan siwak tersebut berada dalam tengah-tengah rangkaian ibadah yang lain. Namun menurut imam Barmawi, niat itu hanya sebatas penyempurna ibadah. Sehingga bersiwak tanpa disertai niatpun dianggap sudah menggugurkan kesunnahan siwak.

 Cara Bersiwak

Adapun cara bersiwak secara detail yang dimuat dalam kitab Dar al-Fikr sebagai berikut:

Berdoa sebelum bersiwak. Salah satu do’a yang dicontohkan Rasulullah SAW adalah:

اَللَّهُمَّ طَهِّرْ بِالسِّوَاكِ اَسْنَانِيْ وَقَوِّيْ بِهِ لَثَاتِيْ وَأَفْصِحْ بِهِ لِسَانِيْ

 “Wahai Allah sucikanlah gigi dan mulutku dengan siwak, dan kuatkanlah gusi-gusiku, dan fashihkanlah lidahku”.

Bisa juga dengan doa berikut:

اَللَّهُمَّ بَيِّضْ بِهِ أَسْنَانِيْ وَشَدِّدْ بِهِ لَثَاتِيْ وَثَبِّتْ بِهِ لِهَاتِيْ وَبَارِكْ لِيْ فِيْهِ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ

Memegang siwak dengan tangan kanan atau tangan kiri (ada perbedaan pendapat ulama tentang hal ini) dan meletakkan jari kelingking dan ibu jari di bawah siwak, sedangkan jari manis, jari tengah, dan jari telunjuk diletakkan di atas siwak.

Bersiwak dimulai dari jajaran gigi atas-tengah, lalu atas-kanan, lalu bawah-kanan, lalu bawah-tengah, lalu atas-tengah, lalu atas-kiri, lalu bawah-kiri. Jadi seperti angka 8 yang ditulis rebah. Baik gigi bagian dalam maupun gigi bagian luar.

Langkah ke-4 di atas dilakukan 3x putaran.[11]

Catatan : menurut syaikh Wahbah Zuhaily dalam kitabnya al-Fiqhu al-Islamy wa Adillatuhu, gosok gigi menggunakan sikat dan pasta gigi hukumnya disamakan dengan bersiwak.

Doa Bersiwak

Dalam kitab Dar al-Fikr doa memakai siwak adalah sebagai berikut:

اَللَّهُمَّ بَيِّضْ بِهِ أَسْنَانِيْ وَشُدَّ بِهِ لِثَّتِيْ وَثَبِّتْ بِهِ لَهَاتِي وَأَفْصِحْ بِهِ لِسَانِيْ وَبَارِكْ لِيْ فِيْهِ وَأَثِبْنِيْ عَلَيْهِ يَآ أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ

Allahumma bayyidil bihi asnaani wa syudda bihi litstsatii wa tsabbit bihi lahaatii wa afshih bihi lisaani wabaarik lii fiihi wa atsbitnii ‘alaihi ya arhamarroohimiin.

Artinya: “Ya Allah putihkan gigiku dan kuatkan gusiku, serta kuatkan lahatku (daging yang tumbuh di atas langit-langit mulut) dan fasihkan lidahku dengan siwak itu serta berkatilah siwak tersebut dan berilah pahala aku karenanya, wahai dzat paling mengasihi diantara para pengasih.”

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *