Indahnya Bersama di Surga

  • Whatsapp
Indahnya Bersama di Surga
Halimi Zuhdy

“Gak usah ngomong surga mas!”. kata kawan yang berada di sebelah kanan saya. Wajahnya agak masam. Entah apa yang ada dalam pikirannya.

Sepanjang perjalanan menuju Jogja, kami berbincang tentang indahnya hidup. Bukan keruwetan hidup. Kami memposisikan bunga mawar yang merona, bukan duri-duri yang mengitari mawar itu. Duri bagi orang yang optimis, adalah keindahan menuju keindahan lainnya. “Orang-orang optimis melihat bunga mawar, bukan durinya. Orang-orang pesimis terpaku pada duri dan melupakan mawarnya,” kata Khalil Gibran.

Bacaan Lainnya

Optimis dalam menjalani hidup adalah bagian dari kebahagiaan. Ia mengharap angin untuk datang membawa sampan menuju dermaga, semakin kencang anginnya semakin bahagia. Bagi yang pesimis selalu berharap angin berhenti, bahkan berharap untuk tidak datang. Bukankan angin akan selalu datang dalam kehidupan, tinggal bagaimana kita menjadikan angin sebagai keberkahan atau sebagai musibah.

Hidup yang indah itu bila dilalui dengan rasa syukur. Apapun kondisi dan keadaannya. Keindahan bukan karena menjadi kaya atau miskin. Kebahagiaan bukan karena punya jabatan atau tidak punya jabatan. Keindahan itu bukan karena banyaknya sanjungan atau minim sanjungan. Keindahan itu bukan banyaknya subscribe atau sedikitnya. Kesenangan itu bila menjalani kehidupan dengan fitrah. Oh ia, bukan berbagai masalah atau problem yang membuat orang itu bersedih, tetapi karena ia tidak mampu mencari hikmah dari masalah itu. Orang bahagia bukan orang yang tidak punya masalah, tetapi ia mampu mengolah masalah menjadi musik kehidupannya.

https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=10220072465231108&id=1508880804

Tayyib. Judul di atas adalah Indahnya Bersama di Surga. Lah, itu bagian dari kebahagiaan. Kebersamaan itu membuat orang senang dan bahagia. Seindah apa pun tempat yang kita huni, tetapi hanya seorang diri, maka ada yang kurang, kebahagiaan. Seindah apa pun perjalanan yang kita lalui, tetapi sendirian, juga ada yang kurang, kesenangan. Seperti berwisata, tetapi ia hanya sendirian, tanpa anak atau istri, tanpa teman atau saudara. Berwisata dalam sunyi. Apakah ada tawa?.

Mengapa kita disuruh untuk menjaga diri dan keluarga dari neraka, “Qu Anfusakum wa Ahlikum Nara!” Agar kita selamat dari neraka, bersama menuju surga. Bersama keluarga, kerabat, tetangga dan saudara. Reuni di surga.

“Ah, sok tahu surga kamu mas!”, teman di sebelah nyeletuk lagi.

“Saya belum tahu surga, tetapi boleh kan optimis masuk surga dengan berbagai macam keindahannya, dan boleh kan berharap masuk bersama-sama, tidak sendirian. Tidak egois. Orang egois itu, ia berbuat baik dan kebaikan hanya untuk dirinya. Asalkan dirinya bahagia dalam ibadah, atau bahagia dalam menjalani hidupnya, selesai. Ke masjid sendirian, shalat sendirian, ajak anak-anak juga menuju tempat yang sama, kan indah”, kok jadi ceramah. Maaf ya gues.wkwwk.

Surga, baik surga yang bermakna taman di muka bumi. Atau surga yang berada di akhirat. Kebersamaan adalah bagian dari keindahan di dalamnya. Indahnya hidup, bila hidup dalam kebersamaan. Al-barakah fil jamaah.

**
Kajian Al-Qur’an, Sastra Arab, dan Mutiara Hikmah 👇🏻

🌎 www. halimizuhdy.com
🎞️ YouTube Lil Jamik
📲 FB Halimi Zuhdy
📷 IG Halimizuhdy3011
🐦 Twitter Halimi Zuhdy
🗜️ Tiktok ibnuzuhdy

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *