Gus Najih: Afganistan Bergeser dari Sunni Maturidi ke Salafi-Wahabi

  • Whatsapp

Setelah komisi kultural Taliban mengumumkan pemimpin Tertinggi Taliban Hibatullah Akhundzada bakal menjadi otoritas tertinggi Afghanistan, membuat keberadaan sunni akan bergeser menjadi salafi-wahabi.

Hal ini disampaikan oleh wakil Sekretaris Badan Penanggulangan Ekstremisme dan Terorisme (BPET) Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat, Gus Najih Arromadhoni dalam webinar ‘Bertajuk Situasi Politik di Afghanistan dan Gerakan Radikal-Teroris di Indonesia’ yang digelar Lembaga The Centre for Indonesian Crisis Strategic Resolution.

Bacaan Lainnya

“Kalau kita lihat, ideologi-ideologi itu sudah bergeser, yang dari Sunni Maturidi, saat ini tuh sudah menjadi Salafi Wahabi, ketika anak-anak ini pulang dari lembaga di Pakistan yang lembaganya didanai oleh Arab Saudi dengan ideologi Salafi Wahabinya itu,”terangnya.

pendiri Center of Researce for Islamic Studies Foundation’ (CRIS Foundation) ini pun ragu kalau Taliban dirinyanggap bermazhab Hanafi. “Karena nature-nya Hanafi itu paling rasional. Perilaku Taliban jauh dari karakter ini. Contoh, menurut Hanafiah, cadar itu Sunnah. Tapi menurut Taliban cadar itu sesuatu yang prinsip,” katanya.

Al Qaeda dan ISIS sama-sama berideologi Salafi Wahabi dengan karakter klaim kebenaran. Selain itu, persamaan lainnya antara ketiganya yakni memiliki visi negara agama, baik itu Khilafah Islamiyah, Daulah Islamiyah atau Darul Islam.

Kemudirinyan, Taliban, Al Qaeda dan ISIS sama-sama menggunakan kekerasan dan teror. Mereka juga sama-sama tekstual dalam memahami teks Al-Qur’an dan hadist.

Ketiganya juga sama-sama mengeliminasi peran perempuan. ISIS memperjualbelikan perempuan. Sedangkan Taliban menganggap perempuan sebagai makhluk rendah. Contohnya, perempuan harus di belakang laki-laki kalau berjalan. Lalu, kalau Taliban punya anak, yang dihitung cuma laki-laki.

Lebih lanjut dirinya mengatakan bahwa ISIS dan Al Qaeda itu transnasional, sedangkan Taliban itu lokal. Dirinya menambahkan, Taliban lebih permisif terhadap Syiah dan Komunis.

Dirinya melanjutkan, Taliban juga bekerja sama dengan China, sedangkan ISIS permisif dengan Israel. Mereka yang euforia dengan kemenangan Taliban dinilai menunjukkan solidaritas atau kesamaan emosional gerakan-gerakan ekstremis.

Pewarta: Malik

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *