Gus Baha: Hukum Membocorkan Ujian Nasional

  • Whatsapp

Oleh: Hafidhoh Ma’rufah Qiroah 

Ulama ahli Qur’an dan Tafsir asal Kab. Rembang, K.H. Ahmad Bahauddin Nursalim atau yang akrab disapa Gus Baha dalam suatu majelis pengajian kitab bersama para santri pernah menceritakan pengalamannya didatangi guru-guru untuk menanyakan perihal hukum membocorkan Ujian Nasional.

Bacaan Lainnya

Berikut cerita dari Gus Baha:

Guru SD, Kepala Sekolah, dan para pegawainya pernah sowan saya ketika mau ada Ujian Nasional. Ini kisah nyata.

Ada seorang oknum guru bilang supaya kelulusan sekolahnya tinggi, “Ayo (soal ujian nasional) pada dibocorkan.”

Para guru lain menanggapi, “Ya jangan! Nanti kriminal membocorkan ujian.”

Nah, guru yang satu ini setengah pernah mondok berkata, “Tidak, ujian Munkar-Nakir saja dibocorkan kiai. Apalagi ini barang dunia kok!”

“Kalau tidak percaya tanya ke Gus Baha!”

“Bagaimana ini? Begitu bisa sampai sowan.” Ujar Gus Baha.

Ujian Munkar-Nakir saja dibocorkan oleh kiai tidak apa-apa. Selama ini Munkar-Nakir harusnya tersinggung. Ujiannya dibocorkan siapa-siapa. Terakhir yang membocorkan modin. 

Akhirnya para guru sowan untuk bertanya kepada saya. Ketika itu saya sedang di gardu pondok, heran kok guru-guru pada datang ada apa.

“Gus, apa betul?”

Waduh…! Saya ya mendukung kebijakan Ujian Nasional tidak bisa dibocorkan. Saya berkata begini, “Ya kalau ujian Munkar Nakir bisa dibocorkan, tapi ini Ujian Nasional bukan ujian Munkar-Nakir.”

Sembrono!

Jadi, ada otak aneh seperti ini ya ada. Saya tidak pernah membayangkan ada orang punya otak seperti itu tidak pernah membayangkan.

Pertanyaan pertama para guru begini, “Ujian pertama Munkar-Nakir begini apa dibocorkan kiai, Gus?”

“Iya.”

“Lho… dibocorkan.”

Repot, repot. Tapi, ya saya sepakat tidak boleh membocorkan Ujian Nasional. Ujian kok dibocorkan!

Soal Munkar-Nakir itu legal, pokoknya boleh. Cuma saya pastikan sebenarnya yang ada di Kitab Bukhari yang (biasa diajarkan) sama modin itu tidak lengkap. Sebenarnya ada orang yang dites (malaikat) disuruh melogika sendiri.

Semua orang untuk me-Nabi-kan Rasulullah itu kan punya caranya masing-masing. Dan itu menurut saya, Anda harus satu saja yang بالبينة, karena ukurannya:

 فَٱعْلَمْ أَنَّهُۥ لَآ إِلَٰهَ إِلَّا ٱللَّهُ

Harus ada ilmunya. Ilmu itu adalah argumentasi ilmiah. Seperti tadi misalnya kenapa kamu menyembah Allah?

Paling tidak kamu bisa menjawab, “Allah itu pula yang saya namakan awal asal-usul اصل الموجودة, yaitu واجب الوجود. Kamu harus bisa menjawab, walau cuma satu.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *