Ghosting Dalam Pandangan Islam

  • Whatsapp

Arti ghosting semenjak tahun lalu semakin populer digunakan anak muda Indonesia. Bahkan, tahun lalu istilah ini menjadi salah satu kata yang banyak dicari di mesin pencarian Google di Indonesia.

Hal yang menjadi perbincangan di media sosial adalah menggantung status calon pasangan. Dalam artian tidak memberikan kejelasan, apakah akan melanjutkan hubungan ke jenjang yang lebih serius, atau sebaliknya. Saat ini hal tersebut disebut dengan ghosting.

Bacaan Lainnya

Arti ghosting adalah menghilang secara tiba-tiba tanpa kontak sama sekali. Orang yang melakukan ghosting, yang biasanya adalah orang dekat kamu, tiba-tiba menghilang tanpa kabar dan tidak bisa dihubungi lagi. Hal inilah yang menyebabkan ghosting sering kali digunakan pada hubungan cinta.

Islam sendiri melarang adanya pemutusan silaturahim hal ini dikemukakan dalam kitab karangan Hadratusy Syekh KH Hasyim Asy’ari berjudul at-Tibyan fi Nahyi an Muqatha’ah al-Arham wal Aqrab wal Akhwan (Penjelasan tentang Larangan Memutus Tali Silaturahmi, Kerabat, dan Persaudaraan).

Abi Hurairah, Nabi Muhammad SAW pernah bersabda Orang muslim tidak boleh memutus hubungan silaturahmi lebih dari tiga hari. Barang siapa memutuskan hubungan itu lebih dari tiga hari kemudian meninggal, maka dia akan masuk neraka (HR Abu Dawud).

Pendapat KH Hasyim Asy’ari tentang dosa besar pad hadits itu yakni bahwa memutus hubungan yang terjadi diantara kita di masa sekarang bukan demi kebaikan orang yang memutus dan orang yang diputus dan bukan pula demi kehidupan mereka, tetapi hanya mengakibatkan kerusakan bagi kedua belah pihak seperti yang sudah jelas bagi orang-orang yang berpikiran lurus maka memutus hubungan silaturahmi adalah termasuk dosa besar karena di dalamnya terdapat kerusakan agama dan dunia, iri hati dan saling marah.

Namun ada berbagai perbedaan pandangan para ulama mengenai batasan memutus tali silaturahim:  

(و) ومنها (قطيعة الرحم) واختلف في المراد بها فقيل ينبغي ان تخص بالإساءة وقيل لا بل ينبغي ان تتعدى الى ترك الإحسان اذ الاحاديث آمرة بالصلة ناهية عن القطيعة. ولا واسطة بينهما والصلة ايصال نوع من انواع الاحسان والقطيعة ضدها فهي ترك الاحسان ، واستوجه في الزواجر ان المراد بها قطع ما ألفه القريب من سابق لغير عذر شرعي لأن قطعه يؤدي الى ايحاش القلوب وتنفيرها – ولا فرق بين كون الاحسان الذي الفه مالا او مراسلة او مكاتبة او زيارة او غير ذلك. فان قطع ذلك كله بعد فعله لغير عذر كبيرة  

“Sebagian dari maksiat adalah memutus tali silaturahim. Para ulama berbeda pendapat mengenai makna yang dikehendaki dari ‘memutus tali silaturahim’ ini. Menurut sebagian pendapat, memutus tali silaturahim sebaiknya dikhususkan pada bentuk perbuatan buruk pada kerabat. Pendapat lain menyangkal pandangan tersebut, sebaiknya memutus tali silaturahim bertumpu pada tidak berbuat baik (pada kerabat), sebab dalam beberapa hadits menganjurkan untuk menyambung tali silaturahim dan melarang memutus tali silaturahim, dan tidak ada perantara makna di antara keduanya. Menyambung tali silaturahim berarti menyambungkan suatu kebaikan, sedangkan memutus tali silaturahim adalah kebalikannya, yakni tidak melakukan kebaikan.  

Imam Ibnu Hajar al-Haitami dalam kitab az-Zawajir berpandangan bahwa yang dimaksud dengan memutus tali silaturahim adalah memutus kebiasaan kerabat tanpa adanya uzur syar’i, sebab memutus hal tersebut akan mendatangkan pada kegersahan hati dan terasingnya hati. Tidak ada perbedaan apakah kebaikan yang dibiasakan itu berupa (pemberian) harta, saling menitip salam, berkirim surat, berkunjung, atau hal yang lainnya. Sesungguhnya memutus segala hal di atas—tanpa adanya uzur—setelah terbiasa melakukannya tergolong dosa besar” (Habib Abdullah bin Husain bin Thahir Ba’lawi, Is’ad ar-Rafiq, juz 2, hal. 117).

Harusnya setiap calon pasangan terutama, laki-laki yang memiliki rasa tanggung jawab memberikan kejelasan atas hubungan dengan lawan jenisnya. Demikian pula perempuan memberikan kepastian apakah menerima itikad baik laki-laki yang menginginkan sebagai pendamping hidup. Menggantung status sangat tidak disarankan. Dan sarana untuk memastikan keseriusan hubungan tersebut adalah dengan melamar atau khitbah.

Syariat menginginkan pernikahan berdiri di atas fondasi dan prinsip yang kuat. Hal ini bertujuan agar visi-misi pernikahan tercapai. Sedangkan khitbah atau lamaran adalah keumuman tahapan menuju jenjang perkawinan.

Di antara tahapan menuju jenjang pernikahan adalah mengkhitbah atau melamar. Khitbah sendiri adalah satu cara untuk menunjukkan keinginan seorang laki-laki untuk menikahi perempuan tertentu, sekaligus memberitahukan hal yang sama kepada wali si perempuan.

Keinginan itu bisa disampaikan langsung oleh si laki-laki atau melalui wakilnya. Jika si perempuan menerima, berati tahapan-tahapan lain menuju pernikahan bisa dilanjutkan. Jika tidak, tahapan pernikahan biasanya dihentikan sampai di situ.

Hikmah dari melamar adalah memberi peluang untuk mengenal lebih jauh antara kedua belah pihak. Di sana ada kesempatan untuk saling mengetahui perangai, tabiat, dan adat kebiasaan masing-masing, dengan tetap memperhatikan batasan-batasan yang dibolehkan syariat. Setelah perkenalan dianggap cukup, masing-masing sudah merasa cocok, dan pertanyaan masing-masing sudah terjawab, maka kedua belah pihak bisa beranjak ke jenjang pernikahan untuk membangun kehidupan bersama yang langgeng dan penuh kebahagiaan sampai ajal memisahkan keduanya.

Lamaran atau khitbah bisa disampaikan dengan ungkapan yang jelas dan tegas, bisa juga dengan ungkapan tawaran dan sindiran. Ungkapan jelas, misalnya: Saya bermaksud melamar kamu, atau saya ingin menikahi perempuan itu.

Sementara ungkapan tawaran atau sindiran, misalnya diungkapkan langsung kepada si perempuan: Saya melihatmu sudah saatnya menikah atau bahagia sekali orang yang mendapatkan dirimu atau saya sedang mencari gadis yang seperti dirimu dan sebagainya.

Namun, perlu dicatat bahwa melamar (khitbah), begitu pula pemberian hadiah, tukar cincin, tunangan, dan semacamnya, baru sekadar janji atau keinginan untuk menikah, bukan pernikahan itu sendiri. Sebab, pernikahan tidak terlaksana kecuali dengan akad nikah yang memiliki syarat dan rukun tersendiri. Ini artinya, laki-laki yang melamar dengan perempuan yang dilamarnya masih tetap bukan mahram.

Dengan demikian mereka tidak boleh berkhalwat, berduaan, saling memandang, bergandeng tangan, dan sebagainya kecuali dalam batas yang diperbolehkan syara, yaitu bagian wajah dan kedua telapak tangan.

Demikian sebagaimana yang dikemukakan oleh Az-Zuhayli:

   الخطبة مجرد وعد بالزواج، وليست  زواجاً ، فإن الزواج لا يتم إلا بانعقاد العقد المعروف، فيظل كل من الخاطبين أجنبياً عن الآخر، ولا يحل له الاطلاع إلا على المقدار المباح شرعاً وهو الوجه والكفان

Artinya: Khitbah itu baru sekadar janji pernikahan. Bukan pernikahan. Sebab, pernikahan tak terlaksana kecuali dengan sahnya akad yang sudah maklum. Dengan begitu, laki-laki yang melamar dan perempuan yang dilamar statusnya masih orang lain. Tidak halal bagi si pelamar untuk melihat si perempuan kecuali bagian yang diperbolehkan syariat, yakni wajah dan kedua telapak tangan. (Lihat Az-Zuhayli, Al-Fiqhul Islami wa Adillatuhu, jilid IX, halaman 6493).

disarikan dari nuonline.id

Penulis: Malik

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *