Ganja untuk Medis

Saat ini sedang hangat diperbincangkan soal Ganja dijadikan obat dalam keperluan medis. Wakil Presiden juga sudah meminta agar MUI Pusat mengeluarkan Fatwa. Juga karena di DPR sedang ada pembahasan ini.

Metro TV Jatim menghubungi MUI Jatim, akhirnya saya yang dapat perintah diwawancara. Alhamdulillah tadi hadir pula guru besar bidang apotek dari Unair dan anggota DPRD Jatim.

Bacaan Lainnya

Kapasitas saya hanya menyampaikan dari sisi Hukum Fikih. Berlandaskan hadis berikut:

” ﺇﻥ اﻟﻠﻪ ﻟﻢ ﻳﺠﻌﻞ ﺷﻔﺎءﻛﻢ ﻓﻴﻤﺎ ﺣﺮﻡ ﻋﻠﻴﻜﻢ “.

“Sungguh Allah tidak menjadikan obat untuk kalian di dalam hal-hal yang diharamkan” (HR Al-Baihaqi)

Ulama Syafi’iyah mengatakan:

ﻭﺣﺪﻳﺚ ﻟﻢ ﻳﺠﻌﻞ ﺷﻔﺎءﻛﻢ ﻣﺤﻤﻮﻝ ﻋﻠﻰ ﻋﺪﻡ اﻟﺤﺎﺟﺔ ﺇﻟﻴﻪ ﺑﺄﻥ ﻳﻜﻮﻥ ﻫﻨﺎﻙ ﻣﺎ ﻳﻐﻨﻲ ﻋﻨﻪ ﻭﻳﻘﻮﻡ ﻣﻘﺎﻣﻪ ﻣﻦ اﻷﺩﻭﻳﺔ اﻟﻄﺎﻫﺮﺓ.

Maksud hadis tersebut adalah jika tidak ada keperluan menggunakan barang haram untuk obat, misalnya karena ada benda lain yang suci dan berfungsi sama seperti benda haram tersebut (Al-Majmu’, 8/53)

Setelah saya paparkan sisi Fikihnya, Guru Besar dari Unair mengatakan bahwa selama ini kandungan obat yang terdapat dalam Ganja, misalnya untuk penenang ternyata ada di bahan obat lain, juga penghilang nyeri juga ada obat modern lainnya.

Memang masih perlu menunggu hasil uji klinis mana kandungan yang terdapat dalam Ganja yang sama sekali tidak ada obat alternatifnya. Jika sudah menjadi satu-satunya bahan yang terdapat dalam Ganja maka masuk kategori darurat:

ﻭﻗﺎﻝ اﻟﺒﻴﻬﻘﻲ ﻫﺬاﻥ اﻟﺤﺪﻳﺜﺎﻥ ﺇﻥ ﺻﺤﺎ ﺣﻤﻼ ﻋﻠﻰ اﻟﻨﻬﻲ ﻋﻦ اﻟﺘﺪاﻭﻱ ﺑاﻟﻤﺴﻜﺮ ﻭﻋﻠﻰ اﻟﺘﺪاﻭﻱ ﺑاﻟﺤﺮاﻡ ﻣﻦ ﻏﻴﺮ ﺿﺮﻭﺭﺓ

Al-Baihaqi berkata tentang dua hadis (larangan berobat dengan barang haram) jika memang dinilai sahih adalah larangan berobat dengan benda yang memabukkan atau benda haram tanpa ada unsur daruratnya (Al-Majmu’, 8/53)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *