Bagaimana Seharusnya Sikap Seorang Muslim terhadap LGBT?

Oleh: Redaksi
Isu LGBT semakin mencuat saat Deddy Corbuzier mengundang Ragil Mahardika dan suaminya ke podcast miliknya. Ragil Mahardika merupakan seorang pria dengan orientasi seksual sesama jenis asal Indonesia yang kini bermukim di Jerman bersama suaminya, Frederik Vollert.
Sosok Ragil Mahardika mulai dikenal usai kerap memamerkan kehidupan rumah tangganya sebagai pasangan sesama jenis ke TikTok. Di sisi lain, konten Deddy Corbuzier menuai kecaman karena dituding mengkampanyekan LGBT. Sebab, konten tersebut diberi judul ‘tutorial menjadi gay’.
Islam sebagai agama salah satunya berfungsi sebagai pembatas yang membatasi aktivitas manusia, mulai dari masalah makanan sampai hubungan seksual. Beberapa hal dilarang dalam Islam tanpa disebutkan alasannya, sedangkan yang lain dijelaskan mengapa hal itu dilarang.
Namun, batasan-batasan dalam Islam bukan berarti mengekang hidup manusia hingga serba terbatas. Hal-hal yang diperbolehkan dalam Islam jauh lebih banyak daripada yang dilarang. Misalnya, makanan yang haram dalam Islam sebatas yang disebutkan dalam Al-Qur’an dan sunnah, dan jumlahnya hanya sedikit. Di luar daripada itu maka hukumnya halal. Dalam hubungan seksual, Islam juga membatasi manusia dan hanya memperbolehkan mereka berhubungan seksual jika memenuhi dua kondisi umum.
Pertama, adanya ikatan pernikahan yang sah. Adapun pernikahan dianggap sah jika dilakukan oleh pasangan lawan jenis. Maka, kondisi kedua yang memperbolehkan hubungan seksual dalam Islam adalah dilakukan antara laki-laki dan perempuan, bukan sesama jenis.
Jika kedua kondisi tersebut gugur, maka Islam melarang hubungan seksual dan menganggapnya melampaui batas atau perzinaan, yaitu hubungan seksual di luar nikah, dan hubungan seksual yang dilakukan dengan pasangan sesama jenis (antara laki-laki dan laki-laki, atau perempuan dan perempuan).
Hubungan seksual sesama jenis kerap dinisbatkan kepada penduduk Sodom, kaum Nabi Lut as. Dalam Al-Qur’an, Allah menceritakan bahwa Nabi Lut berdakwah kepada kaumnya untuk meninggalkan perbuatan keji yang mereka lakukan. Apakah itu? Allah menjelaskan:


اِنَّكُمْ لَتَأْتُوْنَ الرِّجَالَ شَهْوَةً مِّنْ دُوْنِ النِّسَاۤءِۗ بَلْ اَنْتُمْ قَوْمٌ مُّسْرِفُوْنَ

Bacaan Lainnya

“Sesungguhnya kamu benar-benar mendatangi laki-laki untuk melampiaskan syahwat, bukan kepada perempuan, bahkan kamu adalah kaum yang melampaui batas” (QS. Al-A’raf [7]: 81).

Dalam khazanah Islam klasik, gender hanya ditentukan sebatas dari faktor biologis, sebagaimana hubungan seksual juga dipandang sebagai aktivitas biologis yang berfungsi untuk reproduksi atau melahirkan keturunan. Hukum asal inilah yang kemudian digunakan fuqaha (ahli fiqih) untuk menetapkan hukum Islam terkait hubungan seksual dan persoalan gender.

Maka, Islam secara umum hanya mengenal gender laki-laki dan perempuan, seperti dalam firman Allah:


يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ اِنَّا خَلَقْنٰكُمْ مِّنْ ذَكَرٍ وَّاُنْثٰى

Wahai manusia, sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan perempuan (QS. Al-Hujurat [49]: 13).


Menurut Biologi, jenis kelamin ditentukan dari kromosom X dan Y. Laki-laki memiliki satu kromosom X dan satu kromosom Y (XY), sedangkan perempuan memiliki dua kromosom X (XX).
Namun, dalam sebagian kasus, Islam juga mengakui adanya gender ketiga, yaitu seseorang yang terlahir dengan dua kelamin atau interseks, yang dalam istilah fikih dikenal sebagai khuntsa atau hermaphrodite dalam istilah ilmiahnya.
Istilah khuntsa sendiri didapatkan dari beberapa atsar sahabat, seperti yang diriwayatkan Al-Hasan bin Katsir dari ayahnya:


شَهِدْتُ عَلِياً رَضِيَ اللهُ عَنْهُ فِيْ خُنْثَى قَالَ اُنْظُرُوْا مَسِيْلَ الْبَوْلِ فَوَرِّثُوْهُ مِنْهُ

Aku melihat pandangan Ali r.a. dalam masalah bagian waris bagi khuntsa (orang berkelamin ganda). Ia berkata, “Lihatlah jalur kencingnya (lebih dominan laki-laki atau perempuan), lalu berikan warisan berdasarkan itu.”

Selain ketiga gender di atas, pandangan fikih klasik belum mengakomodir adanya gender melalui perubahan kelamin asal atau transgender. Dengan kata lain, identitas gender seseorang ditentukan berdasarkan alat kelaminnya sejak lahir.
Berdasarkan hal tersebut, maka kebanyakan ulama Islam melarang perbuatan LGBT (Lesbian, Gay, Biseksual, dan Transgender) karena dianggap menyalahi fitrah biologis manusia. Namun, apakah dengan begitu kita berhak mendiskriminasi seseorang berdasarkan identitas gender yang mereka pilih dan kita anggap salah?
Pelarangan LGBT adalah satu hal, tetapi sikap seorang muslim terhadap pelakunya adalah hal lain. Sama halnya ada pendapat tentang najisnya air liur anjing dan keharaman memakan dagingnya, bukan berarti seorang muslim boleh berbuat zalim kepada anjing.
Sahabat Umar bin Khattab r.a. pernah bercerita, ada seorang lelaki di zaman Rasulullah ﷺ yang dijuluki himar atau keledai. Ia sering bercanda dengan Rasulullah ﷺ, dan gemar minum khamr yang mana dilarang dalam Islam. Lelaki itu adalah Nu’aiman.
Hingga suatu hari, Nu’aiman dibawa menghadap Rasulullah ﷺ untuk ke sekian kalinya karena mabuk. Rasulullah ﷺ memerintahkan para sahabat mencambuknya. Karena jengkel dengan kelakukan Nu’aiman, ada seseorang sahabat yang menyeletuk, “Ya Allah, laknatlah dia, sudah berkali-kali dia begini!”
Mendengar ucapan itu, Rasulullah ﷺ menegur sahabat yang melaknat Nu’aiman:

لاَ تَلْعَنُوهُ، فَوَاللَّهِ مَا عَلِمْتُ أَنَّهُ يُحِبُّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ

Jangan kalian melaknatnya. Demi Allah, aku tahu bahwa ia mencintai Allah dan rasul-Nya (HR Bukhari no. 6780).
Belas kasih adalah sifat dari umat Rasulullah ﷺ, bahkan kepada para pelaku maksiat. Imam Malik pernah menuliskan pesan dari Nabi Isa as. yang patut kita renungi:


وَلَا تَنْظُرُوا فِي ذُنُوبِ النَّاسِ كَأَنَّكُمْ أَرْبَابٌ وَانْظُرُوا فِي ذُنُوبِكُمْ كَأَنَّكُمْ عَبِيدٌ فَإِنَّمَا النَّاسُ مُبْتَلًى وَمُعَافًى فَارْحَمُوا أَهْلَ الْبَلَاءِ

Janganlah kalian melihat dosa orang lain seolah-olah kalian Tuhan, tetapi lihatlah dosa kalian seperti seorang hamba. Karena beberapa orang diuji dengan kesalahan dan yang lain terselamatkan. Maka bersimpatilah kepada orang-orang yang menderita itu.

Jika tidak ada belas kasih tersisa dalam hati kita kepada orang-orang yang kita anggap sebagai pendosa, maka mereka tak akan melihat rahmat Tuhan dalam diri kita dan agama kita. Hal itu mungkin akan membuat mereka semakin jauh dari Allah. Mari membenci perbuatannya, bukan pelakunya. Sebagaimana yang dicontohkan oleh Sahabat Abu Darda’ r.a.
Suatu ketika beliau melewati seorang pendosa yang dicemooh dan dihina oleh orang-orang sekitarnya. Lalu beliau bertanya kepada mereka, “Apa yang akan kalian lakukan jika saudara kalian jatuh ke dalam sumur?”
“Tentu kami akan mengeluarkannya,” jawab mereka.
Lantas Abu Darda’ melanjutkan:


فَلَا تَسُبُّوْا أَخَاكُمْ وَاحْمَدُوْا اللهَ عَزَّ وَجَلَّ الَّذِيْ عَافَكُمْ

Maka, janganlah kalian menghina saudara kalian itu, dan bersyukurlah kepada Allah yang telah menyelamatkan kalian dari apa yang dia lakukan.
“Lalu, apakah kamu tidak membencinya?” tanya mereka.
Abu Darda’ menjawab dengan tenang:


إِنَّمَا أَبْغُضُ عَمَلَهُ فَإِذَا تَرَكَهُ فَهُوَ أَخِيْ

Yang aku benci adalah perbuatannya. Jika ia meninggalkan itu, maka ia adalah saudaraku.
Imam Syafii juga pernah menasehati muridnya, Yunus bin Abd Al-A’la, ketika mereka berselisih pendapat, “Bencilah selalu kesalahan, tapi jangan membenci orang yang berbuat salah. Bencilah dosa dengan sepenuh hatimu, tapi maafkanlah dan bersimpatilah kepada pendosa. Kritiklah perkataan, tapi hormatilah pembicara. Tugas kita adalah untuk memusnahkah penyakit, bukan pasiennya.”

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.