Asrama dan Penjara; Santri dan Yusuf

  • Whatsapp
Jpeg

Oleh: Fitrian Kadir

Apa yang anda pikirkan tentang: asrama, santri, berpisah dari orang tua; dan semua momen haru bahkan sedih karena harus jauh dari orang yang dicintai sekian lama?

Bacaan Lainnya

Pasti ada harap, bercampur sedih, cemas, haru hingga air mata. Saya pernah merasakan, dulu, dalam posisi sebagai anak. Jika di posisi sebagai ayah, saya yakin rasa berpisah tersebut lebih berat. Lebih menyiksa.

Nikmati saja rasa itu. Namun, jangan lupa bahwa ada kisah dahsyat tentang berpisahnya orang tua dan anak sekian lama, karena Allah ingin menempa sang anak, berikut juga sang ayah. Kisah ini diabadikan oleh Al-Qur’an, yaitu kisah Yaqub sang ayah dengan putra beliau, Yusuf. Yaqub harus rela berpisah dengan Yusuf dalam waktu yang sangat lama. Riwayat menyebutkan 40 tahun, bahkan lebih, sampai mereka berjumpa lagi.

Yaqub harus kehilangan putra yang sangat dia cintai di usianya yang sangat belia. Yusuf dibuang ke dalam sumur. Dan sejak saat itu, semua “penderitaan” dimulai: diambil dari sumur oleh kafilah, diperdagangkan, menjadi pembantu, difitnah berzina; dan berakhir di penjara.

Pada momen yang sama, sang ayah juga didera rindu yang tak terkira. Al Quran sampai menyebutkan bahwa Yaqub menangis hingga memutih matanya; buta. Di sini kita tahu, saat rindu, menangis itu dibolehkan. Namun meratap, tidak terima takdir, merutuk; adalah hal lain lagi.

Momen ini harus dilalui Yusuf hingga akhirnya, sang Raja butuh seorang yang mampu menafsirkan mimpinya. Yusuf menafsirkan mimpi tersebut yang ternyata adalah ancaman krisis 7 tahun ke depan. Perlu seorang yang memiliki karakter kuat, kecerdasan tinggi dan kejujuran luar biasa untuk menangani ini. Dan ditunjuklah Yusuf. Dari seorang narapidana, beliau menjadi bendahara negara. Tidak tanggung-tanggung. Dengan izin Allah, Yusuf berhasil menyelamatkan satu negara dari kelaparan.

Coba kita putar kembali kisah ini, namun dengan skenario berbeda. Tidak ada episode Yusuf dibuang ke dalam sumur. Artinya, tidak ada cerita Yusuf harus berpisah jauh dari keluarganya serta semua fitnah, penjara dan derita lainnya. Maka kelak, puluhan tahun kemudian, akan terjadi paceklik yang dapat membunuh satu negeri.

Air mata Yaqub karena harus berpisah dengan Yusuf sekian lama, adalah bayaran agar tidak perlu ada air mata ratusan bahkan ribuan orang tua menangisi kematian anaknya karena kelaparan dari 7 tahun krisis. Benarlah ucapan beliau: selalu ada keindahan di setiap sabar (فصبر جميل).

Kejadian ini diabadikan Al-Qur’an tentunya untuk pelajaran bagi kita. Kisah Yaqub dan Yusuf adalah contoh luar biasa dari kisah ortu dan anak yg hanya satu semester atau paling lama hingga lebaran tahun depan. Namun dari kisah ini, kita belajar banyak bahwa anak kita, termasuk kita, perlu mendapatkan tempaan. Dan semua ujian yang kita lalui ini, tak satu detik pun luput dari rencana Allah.

Dari perpisahan Yaqub-Yusuf yang penuh ujian, Allah selamatkan satu negara dari kelaparan. Dan dari perpisahan orang tua-santri hari ini, kita boleh berdoa dan berharap: bahwa kelak, belasan atau puluhan tahun lagi, anak-anak ini akan menyelamatkan negeri dari krisis di masa depan.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *