Alasan Mengapa Kiai Dulu Melarang Santri Pakai Kopiah Putih

Alasan Mengapa Kiai Dulu Melarang Santri Pakai Kopyah Putih

oleh: Kiai Mas Budiyono Santoso

Kakek kami RKH. Djusuf Truno Astmoro, pernah mengurai tentang adab seorang santri pada kiai. Beliau sering dawuh, “Cong be’en mon silaturrahmi ka guruh jhe’ nganggui songkok ajjih, senajjen be’en la ajjih. Tetep nganggui songkok celleng. Jiyeh bukteh ketawaddu’ennah santreh ka kiaeh”.

Bacaan Lainnya

Jika diterjemah bebas kira-kira, “Nak, kalau kamu sedang silaturahmi dengan gurumu, jangan mengenakan kopiah putih walaupun kamu sudah pernah naik haji. Tetaplah menggunakan kopiah hitam, karena yang demikian itu termasuk bentuk ketawadhu’an seorang santri kepada Kiai”.

Dari situ kita simpulkan bahwa. Inti dari agama adalah akhlak (adab). Rasulullah diutus ke dunia untuk menyempurnakan akhlak, sesuai firman Allah,

وما ارسلناك إلا رحمة للعالمين

“Dan tidaklah Kami (Allah) mengutus engkau (Muhammad) kecuali sebagai rahmat bagi alam semesta“.

Rasulullah juga bersabda,

إنما بعثت لأتمم مكارم الأخلاق

“Sesungguhnya Aku (Muhammad) diutus ke dunia ini, untuk menyempurnakan akhlak yang terpuji”

Akhlak itu meliputi akhlak kepada Allah Sang Pencipta dan akhlak kepada sesama manusia. Rasulullah dalam kesehariannya berakhlak dengan akhlaq Al Qur’an. Hal ini yang disampaikan oleh Sayyidah Aisyah, bahwa tatkala beliau ditanya tentang akhlak Rasulullah, Sayyidah Aisyah menjawab,

كان خلقه القرآن

“Rasulullah berakhlak dengan Al Qur’an”

Sabtu, 22 Oktober 2022, bertepatan dengan momen Hari Santri. Maka, santri harus bisa meneladani mencontoh Rasulullah Muhammad. Karena Rasulullah sebagai teladan terbaik (uswah hasanah) bagi kita Ummatnya.

Allah berfirman,

لقد كان لكم في رسول الله اسوة حسنة

“Sungguh pada diri Rasulullah itu terdapat teladan yang baik bagi kalian”.

Kita harus meneladani sifat-sifat Rasulullah, shiddiq, amanah, fathonah dan tabligh.
Apabila kita bisa meneladani keempat sifat Rasulullah tersebut maka kita dinamakan Santri Satria, yang siap membela agama, bangsa dan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Namun, sehebat apapun dan se alim apapun, kita tetap santri saklawase. Seorang santri harus tetap mengutamakan akhlaq (adab) diatas ilmu.

الادب فوق العلم

“Adab harus lebih diutamakan daripada ilmu”.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *